Selasa, 25 Januari 2011

Lima PTPN Bersiap Lepas Saham Perdana

JAKARTA--MICOM: Sebanyak lima PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dinilai telah siap melaksanakan penawaran umum saham perdana atau IPO dalam waktu dekat pasca terbentuknya holding BUMN perkebunan. Pertimbangannya, para PTPN ini sudah sehat secara keuangan dan memiliki rencana bisnis yang matang di industri hilir komoditas.

Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Primer Megananda Daryono mengatakan itu usai melantik Dewan Komisaris baru 12 BUMN yang terkait bidangnya di Jakarta, Senin (24/1). "Nanti setelah holding terbentuk, mereka bisa IPO berdasarkan prioritas kebutuhannya," ujar Megananda.

Dia memaparkan, kelima PTPN itu yakni PTPN III, IV, V, VII, dan XIII. Kelimanya adalah BUMN perkebunan yang menggeluti bisnis inti pada komoditas kelapa sawit dan karet alam.

Dengan melakukan IPO pascaholding terbentuk, nilai pasar perseroan diharapkan ikut terkerek naik. Menurut Megananda, dari penghitungan terakhir, jumlah total aset ke-14 BUMN perkebunan yang diholdingisasi sebesar Rp44 triliun. Adapun total pendapatan prognosa 2010 sebesar Rp40 trilun.

"Holding ini tidak akan mengganggu rencana IPO PTPN. Nanti kalau ada yang IPO, perusahaan superholding akan bertindak sebagai wakil pemegang saham anak-anak usahanya," ujarnya.

Dana dari hasil IPO, lanjut Megananda, dapat digunakan untuk fokus menggarap pengembangan industri hilir komoditas. Saat ini, ada dua PTPN yang telah melaporkan rencana komprehensifnya mengenai industri hilir, yakni PTPN III dan PTPN IV.

PTPN III, selain memperluas lahan tanam, juga berencana mengembangkan industri hilir untuk komoditas karet. Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2011, BUMN perkebunan yang berbasis di Medan, Sumatra Utara, ini sudah memasukkan rencana pembangunan pabrik ban, benang, serta sarung tangan berbahan baku karet alam.

Sebelumnya, PTPN III memang pernah memiliki pabrik benang karet dengan kapasitas empat lini produksi dan sarung tangan karet dua lini. Dengan ekspansi bisnis di 2011, pabrik ini akan diperluas menjadi 24 lini produksi. Pembangunan juga bisa dipertimbangkan melalui konsorsium dengan swasta. "Jadi kita nggak hanya ekspor karet mentahnya saja. Kalau terus ekspor, kita yang rugi," ujar Megananda.

Adapun PTPN IV juga telah dalam tahap finalisasi kajian pengembang industri hilir CPO dengan produk akhir minyak goreng. Industri hilir kedua PTPN ini ditargetkan sudah bisa dituntaskan akhir tahun ini. "Paling lambat tahun depan sudah bisa mulai berproduksi," ujarnya. (AW/OL-2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar