Bursa Regional
Beberapa pasar saham di Asia Tenggara mencatat tekanan yang berat pada bulan ini setelah tahun lalu menikmati penguatan yang signifikan. Ini wajar saja setelah tahun lalu derasnya aliran dana asing dibalik penguatan saham tahun lalu, kini investor asing memanfaatkan efek inflasi sebagai momentum aksi ambil untung. Bursa di Indonesia, Thailand dan Filipina mengalami gelombang penarikan dana asing akibat meningkatnya kekhawatiran inflasi dan tingginya valuasi saham.
Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia jatuh sekitar 9,6 persen sejak awal tahun ini hingga awal pekan ini ke level terendah dalam empat bulan terakhir. Bursa Thailand melemah sekitar 4,3 persen pada Senin lalu atau penurunan terbesar harian dalan persentase dalam lebih dari 15 bulan terakhir. Demikian pula, bursa Filipina jatuh lebih dari lima persen tahun ini. Bahkan diperkirakan koreksi lebih lanjut mungkin masih bisa terjadi dalam jangka pendek akibat keluarnya dana-dana asing.
Di Thailand, nilai jual asing pada Januari mencapai 945,8 juta dollar AS, Indonesia sekitar 568 juta dollar, dan sekitar 93 juta dollar AS di Filipina. “Asia masuk tahun ketiga pemulihan ekonomi dan kita melihat bank sentral di Asia Tenggara bertahan pada kebijakan apresiasi mata uangnya atas dollar AS untuk memompa likuiditas,” kata Andrew Pease, Chief Investment Strategist for Asia-Pacific di Russell Investments seperti dikutip DowJones, kemarin.
”Tetapi sekarang, melawan kejatuhan seiring laju infl asi dan kemungkinan kebijakan pengetatan moneter, kita lebih khawatir terhadap pasar saham di Asia Tenggara. Bursa kawasan ini terlihat mahal dibanding negara-negara berkembang lainnya,” lanjutnya. Faktor valuasi saat ini tengah menjadi concern atau sangat diwaspadai. “Valuasi rata-rata di negara-negara berkembang di Asia Tenggara jauh di atas dibanding di Asia Utara,” ujar Norman Villamin, Head of Investment Strategy for Asia di RBS Coutts.
Karena itu, kinerja kuat pada tahun lalu seperti di Indonesia, Filipina dan Thailand tampaknya akan terhambat pada tahun ini. Bursa Thailand saat ini diperdagangkan dengan PER (price to earning ratio) sekitar 12,3 kali dibanding rata-rata historisnya sekitar 9,4 kali. Bursa Indonesia saat ini memiliki PER sebesar 14,5 kali dibanding rata-ratanya sekitar 13,7 kali.
Namun demikian, banyak analis mempertimbangkan pasar di kawasan ini tetap menarik sebagai tujuan investasi, khususnya pertumbuhan ekonomi yang kuat. “Kita tetap sangat mengincar negaranegara di kawasan ini yang memiliki demografi ideal,” jelas Desmond Tjiang, Chief Investment Officer, Asian Equities (eks-Japan) di BNP Paribas Investment Partners.
StockWatch/supriyanto/E-1
Beberapa pasar saham di Asia Tenggara mencatat tekanan yang berat pada bulan ini setelah tahun lalu menikmati penguatan yang signifikan. Ini wajar saja setelah tahun lalu derasnya aliran dana asing dibalik penguatan saham tahun lalu, kini investor asing memanfaatkan efek inflasi sebagai momentum aksi ambil untung. Bursa di Indonesia, Thailand dan Filipina mengalami gelombang penarikan dana asing akibat meningkatnya kekhawatiran inflasi dan tingginya valuasi saham.
Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia jatuh sekitar 9,6 persen sejak awal tahun ini hingga awal pekan ini ke level terendah dalam empat bulan terakhir. Bursa Thailand melemah sekitar 4,3 persen pada Senin lalu atau penurunan terbesar harian dalan persentase dalam lebih dari 15 bulan terakhir. Demikian pula, bursa Filipina jatuh lebih dari lima persen tahun ini. Bahkan diperkirakan koreksi lebih lanjut mungkin masih bisa terjadi dalam jangka pendek akibat keluarnya dana-dana asing.
Di Thailand, nilai jual asing pada Januari mencapai 945,8 juta dollar AS, Indonesia sekitar 568 juta dollar, dan sekitar 93 juta dollar AS di Filipina. “Asia masuk tahun ketiga pemulihan ekonomi dan kita melihat bank sentral di Asia Tenggara bertahan pada kebijakan apresiasi mata uangnya atas dollar AS untuk memompa likuiditas,” kata Andrew Pease, Chief Investment Strategist for Asia-Pacific di Russell Investments seperti dikutip DowJones, kemarin.
”Tetapi sekarang, melawan kejatuhan seiring laju infl asi dan kemungkinan kebijakan pengetatan moneter, kita lebih khawatir terhadap pasar saham di Asia Tenggara. Bursa kawasan ini terlihat mahal dibanding negara-negara berkembang lainnya,” lanjutnya. Faktor valuasi saat ini tengah menjadi concern atau sangat diwaspadai. “Valuasi rata-rata di negara-negara berkembang di Asia Tenggara jauh di atas dibanding di Asia Utara,” ujar Norman Villamin, Head of Investment Strategy for Asia di RBS Coutts.
Karena itu, kinerja kuat pada tahun lalu seperti di Indonesia, Filipina dan Thailand tampaknya akan terhambat pada tahun ini. Bursa Thailand saat ini diperdagangkan dengan PER (price to earning ratio) sekitar 12,3 kali dibanding rata-rata historisnya sekitar 9,4 kali. Bursa Indonesia saat ini memiliki PER sebesar 14,5 kali dibanding rata-ratanya sekitar 13,7 kali.
Namun demikian, banyak analis mempertimbangkan pasar di kawasan ini tetap menarik sebagai tujuan investasi, khususnya pertumbuhan ekonomi yang kuat. “Kita tetap sangat mengincar negaranegara di kawasan ini yang memiliki demografi ideal,” jelas Desmond Tjiang, Chief Investment Officer, Asian Equities (eks-Japan) di BNP Paribas Investment Partners.
StockWatch/supriyanto/E-1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar