Senin, 31 Januari 2011

Kupon obligasi Bank BJB bertenor 3 tahun 9,2%

JAKARTA: Kupon obligasi VII/2011 PT Bank Jabar Banten Tbk yang bertenor 3 tahun ditetapkan pada level 9,2%, lebih tinggi dibandingkan dengan kisaran yang ditawarkan emiten kepada investor pada awal masa penawaran 7,44%--8,44% . Jumlah total penerbitan obligasi itu masih pada kisaran awal, sebesar Rp2 triliun. 
Direktur PT Trimegah Securities Tbk Karman Pamurahardjo, yang menjadi salah satu penjamin pelaksana emisi penerbitan, membenarkan ketika dikonfirmasi ketiga angka kupon tersebut.
Perusahaan sekuritas itu menetapkan level 10,2% untuk tranche B yang bertenor 5 tahun, dan tranche C yang bertenor 7 tahun pada level 10,4%. Untuk kupon tranche B, kisaran awal yang ditawarkan emiten pada awal masa penawaran adalah sebesar 7,89%--8,89% dan untuk tranche C sebesar 8,45%--9,46%.
“[Komposisi penerbitan] untuk seri A Rp276 miliar, seri B Rp601 miliar, dan seri C Rp1,12 triliun,” ujarnya melalui layanan pesan singkat kepada Bisnis hari ini.
Menurut dia, penetapan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penawaran awal itu disebabkan imbal hasil (yield) surat utang negara (SUN), yang menjadi acuan kupon obligasi korporasi ditambah premium, menguat dan akhirnya menekan harga di pasar sekunder.
Penurunan harga SUN selama 3 pekan terakhir itu, tuturnya, juga sempat membuat investor meminta selisih (spread) dan premium untuk turunnya harga dan naiknya volatilitas yield di pasar sekunder.
Selain Trimegah Securities, penjamin pelaksana emisi penerbitan obligasi bank pembangunan daerah yang memiliki kode saham BJBR itu adalah PT Bahana Securities. Bertindak sebagai wali amanat penerbitan adalah PT Bank Mega Tbk.
Kepala Divisi Fixed Income PT Anugerah Securindo Indah Ramdhan Ario Maruto menilai besaran kupon tersebut dipengaruhi oleh kondisi pasar surat utang negara (SUN) yang volatil dan cenderung melemah selama 2 pekan—3 pekan terakhir.
Namun, tuturnya, obligasi Bank Jabar Banten dengan kupon sebesar itu masih berpotensi terserap pasar.
“[Menurut saya] target issued [jumlah penerbitan obligasi itu] akan terpenuhi.”
Harga SUN yang terkoreksi di pasar sekunder tercermin dari penurunan indeks harga Perhimpunan Pedagang Surat Utang Negara (Himdasun) dari posisi tertinggi di level 110,72 pada 14 Oktober yang terkoreksi sebesar 16,77 poin ke level 93,95 pada 21 Januari.
Posisi terendah itu juga telah terkoreksi sebesar 14,52 poin dari posisi tertinggi pada bulan lalu yang masih bertengger di level 108,47 pada 4 Januari. (fh)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar