Minggu, 30 Januari 2011

Januari Inflasi, BI Rate Layak Naik

JAKARTA--MICOM: Pengamat Ekonomi Tony A Prasetyantono memperkirakan inflasi Januari 2011 akan tinggi dan berada di level 0,6 persen. Untuk itu Bank Indonesia (BI) dinilai perlu menimbang untuk menaikkan suku bunga acuan (BI rate) dari level 6,5 persen.


"Kalau cadangan devisa berkurang dari posisi US$96,2 miliar (posisi akhir 2010), maka BI rate layak dinaikkan dari (level sekarang ini) 6,5%," kata Tony saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (29/1).

Menurut Tony, salah satu alasan BI rate layak dinaikkan karena saat ini indeks harga saham gabungan (IHSG) sudah merosot cukup signifikan. Pada penutupan perdagangan 30 Desember 2010, IHSG ditutup di posisi 3.703,512. Namun belum sebulan tahun 2011, IHSG sudah merosot tajam hingga level 3.471,03 pada akhir pekan lalu.

Menurut Tony, hal ini menandakan ada capital outflow karena biasanya yang paling aktif dan repsonsif di pasar modal adalah invetsor asing.  "Ini bisa dimengerti karena ancaman inflasi di Indonesia cukup serius, sementara beberapa negara emerging markets sudah menaikkan suku bunga acuannya, sedangkan kita belum," kata kepala Ekonom BNI ini.

Mengenai pembalikan arus modal secara mendadak (sudden reversal) dari Indonesia. Tony menilai sudden reversal secara bertahap sudah dan akan terjadi.  "Ketika inflasi naik dan BI rate tetap 6,5%, ada sudden reversal, meski jumlahnya tidak banyak, paling Rp2-3 triliun," katanya.

Akan tetapi ia juga mengingatkan bahwa pembatasan BBM bersubsidi yang akan dilakukan Maret mendatang akan berpotensi menaikkan inflasi. Hal ini juga berpotensi terjadinya sudden reversal. "Tapi ada sedikit berita baik, harga minyak dunia mulai ke arah normal, sekarang US$85 per barrel. Ini bagus bagi inflasi. Setidaknya, tekanan inflasi berkurang," katanya. (Tup/OL-04)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar