JAKARTA--MICOM: Chief Economist dan Managing Director for Economy and Currency Research Bank DBS, David Carbon memprediksi laju inflasi Indonesia hingga akhir tahun bisa mencapai angka 7 persen.
"Potensi kenaikan tingkat inflasi akan semakin terakselerasi di 2011," ujarnya dalam paparan ekonomi di Jakarta, Selasa (25/1).
Menurut dia, potensi inflasi diakibatkan tingginya harga komoditas akibat cuaca yang tidak dapat diprediksi dan aliran modal yang semakin deras sehingga bisa menyebabkan penguatan nilai tukar mata uang.
"Pemerintah harus menyiagakan ketahanan pangan agar harga tidak meningkat tajam, dan bank sentral dengan kebijakan moneternya harus mewaspadai inflasi inti," ujarnya.
David melihat bahwa dalam jangka waktu dekat, naiknya laju inflasi tidak diimbangi dengan kenaikan suku bunga di Indonesia serta sebagian besar negara Asia. "Indonesia dan China termasuk negara-negara yang kenaikan suku bunganya paling lambat," ujarnya.
Menurut David pada 2011, akan ada 40 kenaikan suku bunga di Asia, termasuk suku bunga acuan BI (BI Rate) di Indonesia yang diramalkan akan naik sebesar 150 basis poin menjadi 8 persen pada akhir tahun.
"Dalam setahun terakhir Bank Indonesia mempertahankan BI Rate dan kemungkinan pada 2011 akan naik hingga 150 basis poin dari sebelumnya 6,5 persen," ujarnya.
Selain itu, dalam beberapa tahun mendatang, ia mengatakan arus modal asing yang masuk ke Asia akan semakin kuat disebabkan adanya kebijakan capital easing serta daya tarik Asia yang menjadi poros ekonomi baru setelah krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat (AS) dan Eropa.
"Arus dana masuk ini akan berdampak positif terhadap apresiasi nilai tukar mata uang, walaupun dalam jangka pendek akan mengakibatkan tekanan pada tingkat suku bunga," ujar David. (Ant/OL-2)
"Potensi kenaikan tingkat inflasi akan semakin terakselerasi di 2011," ujarnya dalam paparan ekonomi di Jakarta, Selasa (25/1).
Menurut dia, potensi inflasi diakibatkan tingginya harga komoditas akibat cuaca yang tidak dapat diprediksi dan aliran modal yang semakin deras sehingga bisa menyebabkan penguatan nilai tukar mata uang.
"Pemerintah harus menyiagakan ketahanan pangan agar harga tidak meningkat tajam, dan bank sentral dengan kebijakan moneternya harus mewaspadai inflasi inti," ujarnya.
David melihat bahwa dalam jangka waktu dekat, naiknya laju inflasi tidak diimbangi dengan kenaikan suku bunga di Indonesia serta sebagian besar negara Asia. "Indonesia dan China termasuk negara-negara yang kenaikan suku bunganya paling lambat," ujarnya.
Menurut David pada 2011, akan ada 40 kenaikan suku bunga di Asia, termasuk suku bunga acuan BI (BI Rate) di Indonesia yang diramalkan akan naik sebesar 150 basis poin menjadi 8 persen pada akhir tahun.
"Dalam setahun terakhir Bank Indonesia mempertahankan BI Rate dan kemungkinan pada 2011 akan naik hingga 150 basis poin dari sebelumnya 6,5 persen," ujarnya.
Selain itu, dalam beberapa tahun mendatang, ia mengatakan arus modal asing yang masuk ke Asia akan semakin kuat disebabkan adanya kebijakan capital easing serta daya tarik Asia yang menjadi poros ekonomi baru setelah krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat (AS) dan Eropa.
"Arus dana masuk ini akan berdampak positif terhadap apresiasi nilai tukar mata uang, walaupun dalam jangka pendek akan mengakibatkan tekanan pada tingkat suku bunga," ujar David. (Ant/OL-2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar