JAKARTA: Standard Chartered Bank memperkirakan kenaikan harga minyak hingga level US$100 bersifat sementara, karena tidak didorong oleh alasan fundamental. Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan menuturkan kenaikan harga minyak pada tahun ini kemungkinan disebabkan oleh spekulasi permintaan dan penawaran serta kondisi politik dan perekonomian global.
Meski demikian, gejolak politik yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara dinilai tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap kenaikan harga minyak.
“Negara-negara yang saat ini bergejolak bukan negara yang vital dalam produksi minyak. Hal itu akan berbeda jika yang bergejolak adalah Iran, Irak, Kuwait, dan Arab di Timur Tengah atau Libya dan Nigeria di Afrika Utara,” katanya kepada Bisnis, hari ini.
Fauzi menuturkan spekulasi dan pengalihan portofolio investasi dari dolar ke sektor komoditas tersebut juga berkontribusi terhadap kenaikan harga minyak.
“Saat ini pergerakan dolar AS masih stabil, karena bursa menguat. Namun, ada indikasi pelemahan mata uang yang dapat mendorong kenaikan harga minyak,” katanya.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menambahkan kenaikan harga minyak dunia ditambah dengan stimulus moneter (quantitative easing) dan faktor perubahan iklim mendorong kenaikan komoditas pangan di dalam negeri.
“Berdasarkan pengalaman 2008, kenaikan harga minyak mendorong peningkatan hampir seluruh harga komoditas bahan pangan, baik internasional maupun domestik,” kata Permadi. (spr)

Meski demikian, gejolak politik yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara dinilai tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap kenaikan harga minyak.
“Negara-negara yang saat ini bergejolak bukan negara yang vital dalam produksi minyak. Hal itu akan berbeda jika yang bergejolak adalah Iran, Irak, Kuwait, dan Arab di Timur Tengah atau Libya dan Nigeria di Afrika Utara,” katanya kepada Bisnis, hari ini.
Fauzi menuturkan spekulasi dan pengalihan portofolio investasi dari dolar ke sektor komoditas tersebut juga berkontribusi terhadap kenaikan harga minyak.
“Saat ini pergerakan dolar AS masih stabil, karena bursa menguat. Namun, ada indikasi pelemahan mata uang yang dapat mendorong kenaikan harga minyak,” katanya.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menambahkan kenaikan harga minyak dunia ditambah dengan stimulus moneter (quantitative easing) dan faktor perubahan iklim mendorong kenaikan komoditas pangan di dalam negeri.
“Berdasarkan pengalaman 2008, kenaikan harga minyak mendorong peningkatan hampir seluruh harga komoditas bahan pangan, baik internasional maupun domestik,” kata Permadi. (spr)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar