JAKARTA--MICOM: Presiden SBY pernah menyatakan bahwa PDB Indonesia meningkat seiring dengan turunnya tingkat kemiskinan masyarakat. Namun hal tersebut dibantah oleh mantan Menko perekonomian dan Menkeu Rizal Ramli yang juga mengkritisi arah ekonomi pemerintahan saat ini.
Menurutnya, apa yang dikemukakan SBY bukan indikator sesungguhnya. Angka kemiskinan juga belum berkurang. "Coba bandingkan dengan Presiden Brasil yang berkuasa selama delapan tahun. Ia mampu mengangkat puluhan juta rakyat miskin ke tingkat yang lebih sejahtera. Jadi bohong kalau SBY bilang kita lebih sejahtera," ujar Rizal di Jakarta, Kamis (27/1).
Arah ekonomi saat ini, menurutnya, merupakan ekonomi neoliberal yang merupakan pintu masuk awal ke arah neokolonialisme.
"Tidak mungkin neoliberal seperti sekarang mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat. Karena selalu ada keberpihakan pada modal besar baik modal asing atau dalam negeri," tuturnya.
Ia juga mengatakan jika hal ini terus terjadi, negara akan masuk dalam perangkap hutang dan kesenjangan antara kaya dan miskin makin besar."Solusinya adalah ekonomi konsitusi yang arahnya berpihak pada negara dan rakyat," ujarnya.
Lebih lanjut ia mengatakan,"Dari situ kebijakan-kebijakan yang menyimpang dan pengkhianatan kepada UUD 45 (Pasal 33) akan terlihat". (*/OL-3)
Menurutnya, apa yang dikemukakan SBY bukan indikator sesungguhnya. Angka kemiskinan juga belum berkurang. "Coba bandingkan dengan Presiden Brasil yang berkuasa selama delapan tahun. Ia mampu mengangkat puluhan juta rakyat miskin ke tingkat yang lebih sejahtera. Jadi bohong kalau SBY bilang kita lebih sejahtera," ujar Rizal di Jakarta, Kamis (27/1).
Arah ekonomi saat ini, menurutnya, merupakan ekonomi neoliberal yang merupakan pintu masuk awal ke arah neokolonialisme.
"Tidak mungkin neoliberal seperti sekarang mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat. Karena selalu ada keberpihakan pada modal besar baik modal asing atau dalam negeri," tuturnya.
Ia juga mengatakan jika hal ini terus terjadi, negara akan masuk dalam perangkap hutang dan kesenjangan antara kaya dan miskin makin besar."Solusinya adalah ekonomi konsitusi yang arahnya berpihak pada negara dan rakyat," ujarnya.
Lebih lanjut ia mengatakan,"Dari situ kebijakan-kebijakan yang menyimpang dan pengkhianatan kepada UUD 45 (Pasal 33) akan terlihat". (*/OL-3)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar