JAKARTA--MICOM: Dalam arah kebijakan ke depan, Bank Indonesia (BI) menaruh perhatian terhadap efisiensi perbankan agar mampu mendorong net interest margin (NIM) perbankan lebih rendah dan efisien. Efisiensi perbankan diharapkan dapat menjadi solusi permasalahan intermediasi sehingga ke depan kredit dapat ditingkatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Demikian diungkapkan Gubernur BI Darmin Nasution dalam Pertemuan Tahunan Perbankan di Gedung BI, Jakarta, Jumat (21/1) malam. "Saya menaruh perhatian terhadap efisiensi dan berharap perbankan sanggup mendorong NIM ke arah yang lebih rendah dan efisien. Hemat saya, efisiensi tersebut dapat menjadi simpul terurainya keruwetan permasalahan intermediasi sehingga dapat meningkatkan kredit dan selanjutnya diharapkan lebih mendorong pertumbuhan ekonomi," tutur Darmin.
Dalam skala regional, daya saing perbankan Indonesia dari segi efisiensi, permodalan, dan aset masih lebih rendah dibandingkan negara lain di kawasan. Berdasarkan data BI dan Bank Scope akhir 2009, rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) perbankan Indonesia masih sebesar 81,6% dan NIM-nya sebesar 5,8%. Sementara, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina memiliki rasio BOPO perbankan berkisar 32,7%-73,1% dan NIM berkisar 2,3%-4,5%.
"Fakta ini menunjukkan efisiensi perbankan Indonesia terendah di lima negara ASEAN. Ini ironis dengan fakta lain bahwa rata-rata kenaikan harga saham perbankan di Indonesia sangat fantastis,รข€ kata Darmin. Untuk itu, ia meminta perbankan Indonesia berupaya mengejar ketertinggalan dalam hal efisiensi.
Dengan efisiensi, perbankan bisa memberikan kredit lebih hati-hati, selektif, produktif, dan prospektif. Menurut Darmin, perilaku tersebut akan menstimulasi praktek prudensial perbankan yang merupakan prasyarakat stabilitas keuangan.
Sebelumnya, BI telah melakukan beberapa usaha peningkatan efisiensi perbankan. Salah satunya BI memberlakukan ketentuan perbankan untuk mengumumkan suku bunga dasar kredit (prime lending rate). "Bank Indonesia tentu saja masih terus mengkaji langkah-langkah lanjutan, termasuk yang terkait pemberian hadiah bagi nasabah dan pelaksanaan benchmarking antarbank," ungkap Darmin. (*/OL-11)
Demikian diungkapkan Gubernur BI Darmin Nasution dalam Pertemuan Tahunan Perbankan di Gedung BI, Jakarta, Jumat (21/1) malam. "Saya menaruh perhatian terhadap efisiensi dan berharap perbankan sanggup mendorong NIM ke arah yang lebih rendah dan efisien. Hemat saya, efisiensi tersebut dapat menjadi simpul terurainya keruwetan permasalahan intermediasi sehingga dapat meningkatkan kredit dan selanjutnya diharapkan lebih mendorong pertumbuhan ekonomi," tutur Darmin.
Dalam skala regional, daya saing perbankan Indonesia dari segi efisiensi, permodalan, dan aset masih lebih rendah dibandingkan negara lain di kawasan. Berdasarkan data BI dan Bank Scope akhir 2009, rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) perbankan Indonesia masih sebesar 81,6% dan NIM-nya sebesar 5,8%. Sementara, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina memiliki rasio BOPO perbankan berkisar 32,7%-73,1% dan NIM berkisar 2,3%-4,5%.
"Fakta ini menunjukkan efisiensi perbankan Indonesia terendah di lima negara ASEAN. Ini ironis dengan fakta lain bahwa rata-rata kenaikan harga saham perbankan di Indonesia sangat fantastis,รข€ kata Darmin. Untuk itu, ia meminta perbankan Indonesia berupaya mengejar ketertinggalan dalam hal efisiensi.
Dengan efisiensi, perbankan bisa memberikan kredit lebih hati-hati, selektif, produktif, dan prospektif. Menurut Darmin, perilaku tersebut akan menstimulasi praktek prudensial perbankan yang merupakan prasyarakat stabilitas keuangan.
Sebelumnya, BI telah melakukan beberapa usaha peningkatan efisiensi perbankan. Salah satunya BI memberlakukan ketentuan perbankan untuk mengumumkan suku bunga dasar kredit (prime lending rate). "Bank Indonesia tentu saja masih terus mengkaji langkah-langkah lanjutan, termasuk yang terkait pemberian hadiah bagi nasabah dan pelaksanaan benchmarking antarbank," ungkap Darmin. (*/OL-11)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar