JAKARTA: Bank Indonesia masih membuka ruang untuk penguatan rupiah lebih lanjut sampai dengan di bawah kisaran Rp9.000 per dolar AS. Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono mengatakan nilai tukar berpengaruh ke inflasi sehingga bank sentral membuka kemungkinan untuk terus memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dalam anggaran penerimaan dan belanja negara (APBN) 2011, asumsi nilai tukar rupiah ditetapkan di level US$9.250 per dolar AS.
“BI membuka kemungkinan untuk terus memperkuat nilai tukar untuk mitigasi dan meminimalkan resiko inflasi. Kami menilai Rp9.000 per dolar AS cukup bagus. Kalau bisa lebih kuat lagi, kami akan membawa rupiah di bawah Rp9.000,” katanya dalam sebuah diskusi hari ini.
Namun begitu, Hartadi mengingatkan penguatan rupiah tersebut harus ada batasnya. Bank sentral menginginkan rupiah menguat bersamaan dengan kenaikan nilai tukar mata uang negara-negara pesaing lainnya.
“Kita jaga agar penguatan rupiah jangan terlalu kuat. Jika menguatnya berbarengan dengan mata uang negara-negara pesaing, ada ruang untuk lebih kompetitif lagi,” ujarnya.
Hartadi menilai berbahaya jika rupiah menguat sendiri. Nilai tukar yang berlebihan, tambahnya, dapat mendorong impor terlalu besar sehingga menjadikan Indonesia kurang kompetitif terhadap negara-negara pesaing.
Menurut dia, dampak penguatan nilai tukar akan semakin berbahaya jika ternyata impor yang terjadi adalah impor barang-barang konsumsi sebab akan mendorong konsumerisme. Jika dibiarkan lebih lanjut berpotensi mendorong deindustrialisasi dan justru dapat mematikan industri di dalam negeri.
Hartadi menambahkan konsumerisme sudah terjadi. Saat ini hampir semua barang, termasuk barang konsumsi, diimpor dari luar.
“Itu refleksi perubahan dari negara produsen pangan menjadi konsumen. Mungkin harga yang lebih murah menyebabkan ketergantungan terhadap produk-produk impor cukup besar. Oleh karena itu harus ada batas sampai mana kuatnya [nilai tukar rupiah], jangan sampai impor terlalu besar,” katanya. (fh)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar