JAKARTA: Bank Indonesia mengingatkan daya saing ekonomi Indonesia di tingkat regional terancam jika laju inflasi Indonesia pada tahun ini melampaui 6%.
Hartadi Sarwono, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, menuturkan inflasi meningkat tajam daam beberapa bulan terakhir yang sebagian dipicu oleh kenaikan harga pangan, terutama beras dan cabai. Inflasi harga pangan juga meningkat di kawasan regional, tetapi inflasi di Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan negara lain sekawasan.
“Kalau inflasi di Indonesia (2011) masih 6-7%, sedangkan di Malaysia atau Thailand rata-rata 2-3%, maka kita akan kalah bersaing dengan mereka. Karena mereka melakukan produksi dengan kenaikan harga hanya 2-3%, sedangkan kita bisa 6-7%,” ujarnya hari ini.
Menurut dia, inflasi secara umum terdiri atas inflasi harga pangan, inflasi atas harga-harga yang diatur pemerintah (administered inflation), dan inflasi inti.
Pada 2010, penyebab utama dari tingginya inflasi umum (6,96%) adalah harga-harga bahan pangan (volatile foods) yang bergejolak dengan tingkat inflasi bahan pangan mencapai 17,74%.
Faktor lainnya adalah administered price yang mengalami inflasi 5,4% dan inflasi inti 4,28 %. Untuk itu, lanjut Hartadi, ada tiga hal yang harus dilakukan, yakni kenaikan penawaran harus diimbangi dengan pasokan yang cukup, menjaga nilai tukar stabil pada kisaran yang aman, dan menjaga ekspektasi pelaku pasar terhadap inflasi tersebut.
“Kalau pemerintah dan BI tidak bisa mengatasi ekspektasi dengan kebijakan-kebijakan yang kredibel, maka apapun sumber inflasinya akan memengaruhi inflasi inti dan inflasi secara keseluruhan. Yang bisa dikendalikan oleh BI adalah inflasi inti, tapi kami juga concern untuk mengendalikan inflasi kelompok makanan,” tuturnya.
Otoritas moneter, tambah Hartadi, telah mengupayakan sejumlah kebijakan untuk meredam tekanan inflasi pada tahun ini. Pertama, mempertahankan BI rate untuk membantu pencapaian sasaran inflasi. Kedua, membuka peluang apresiasi Rupiah berlanjut guna menanggulangi inflasi atas barang-barang impor (imported inflation).
Ketiga, mengelola kelebihan likuiditas di dalam negeri akibat derasnya modal asing yang masuk dengan memperpanjang batasan kepemilikan Sertifikat Bank Indonesia.
“Untuk itu penting kordinasi antara BI dan pemerintah. Kalau lihat penyakitnya, penyebab dari pada inflasi, tidak bisa hanya dengan menaikan BI rate, tetapi perlu instrument-instrumen lain dari pemerintah,” tuturnya. (fh)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar