Penulis : Sofyan S Harahap Guru Besar FE Universitas Trisakti
Situasi perkeretaapian di Indonesia sungguh sangat memprihatinkan, dan bahkan membuat kita merasa jengkel dan geregetan melihat nasib dan manajemen jenis moda transportasi yang sangat cocok untuk negara yang berpenduduk besar dengan daratan yang luas. Sejarah perkeretaapian di Indonesia sebenarnya tidak dimulai dari awal kemerdekaan. Kereta api sudah dibangun Belanda untuk mengangkut bahan hasil tambang dan perkebunan di samping untuk kereta api penumpang. Namun, sarana dan prasarana yang sudah ada itu pun tidak bisa dilanjutkan, bahkan ada beberapa jalur yang sudah tidak bisa beroperasi lagi seperti di Sumatra Utara, Aceh, Sumatra Barat, dan Jawa. Urusan perkeretaapian ini memang rumit. Pernah di bawah departemen, kemudian menjadi perusahaan jawatan, dan akhirnya sekarang ini menjadi perusahaan persero yang bertujuan mencari laba di samping diurus lagi oleh sebuah direktorat di bawah Kementerian Perhubungan yang menurut saya suatu pemborosan dan tidak sejalan dengan ilmu manajemen modern. Kereta api di Indonesia masih dimonopoli sehingga sebenarnya lebih mudah mengurusnya karena tidak perlu mempertimbangkan kompetitor. Kualitas lokomotif, gerbong, rel, sarana penunjang seperti stasiun, fasilitas karyawan, dan sebagainya sangat memprihatinkan. Manajemen operasionalnya juga telah membuat banyak nyawa jadi korban. Belum lagi pengaturan jadwal, pembelian tiket, pelayanan dan fasilitas, keamanan dan kenyamanan selama di dalam kereta api, saya nilai sangat tidak layak untuk sebuah bangsa yang memiliki otak yang normal. Administrasi dan pengamanan asetnya yang demikian banyak tidak dipelihara dengan baik dan itu menyebabkan kenapa perkeretaapian ini amburadul dan semrawut.
Belajar dari China
Nah, mari kita lupakan keamburadulan ini dan kita belajar dari China. Tidak disangka ternyata China saat ini adalah negara yang memiliki teknologi kereta api tercepat di dunia. Julukan baru ini terungkap di The 7th World Congres on Hight Speed Rail di Beijing, 7 Desember tahun lalu. Mudah-mudahan ada perwakilan PT Kereta Api Indonesia atau Direktorat Jenderal Kereta Api di sana untuk belajar, bukan jalan-jalan seperti biasanya perilaku pejabat kita.
Tidak tanggung-tanggung, Amerika Serikat yang memang tidak terlalu maju dalam teknologi perkeretaapian ingin membeli kereta api supercepat buatan China itu. Dalam jangka pendek Amerika dan China akan mendirikan perusahaan joint venture dengan modal pertama US$50 juta untuk menjadi produsen kereta api cepat yang bisa dipasarkan nanti, baik di Amerika maupun di negara lain. General Electric bahkan sudah menandatangani perjanjian dengan CSR Co Ltd, perusahaan China yang khusus memproduksikan kereta api supercepat ini, dengan menggunakan teknologi China. Kereta api cepat ini direncanakan akan melayani dua negara bagian, California dan Florida.
Perusahaan Prancis Alstom SA juga tidak mau ketinggalan. Mereka juga sudah menandatangani kesepakatan untuk membangun KA supercepat ini. Kerja sama lainnya juga telah dilakukan dengan Bulgaria dan Turki. Indonesia? Mungkin mau bikin sendiri.
Saat ini China mengoperasikan jaringan kereta api supercepat yang sudah panjang. Jika digabungkan, mencapai 7.531 km dan pada tahun 2012 akan dinaikkan menjadi 13.000 km. Kemudian pada 2020 diprediksi akan mencapai 16.000 km. Total anggarannya adalah US$295 miliar. Jalur ini direncanakan akan menerobos sampai ke Laos, Kamboja, Thailand, Malaysia dan Singapura.
Perjalanan sejarah kereta api supercepat ini sungguh luar biasa. Sesuai dengan namanya, proses pelaksanaan kerjanya juga supercepat, hanya dalam tempo kurang dari 2 tahun. Bandingkan dengan Indonesia yang melulu berputar-putar pada MoU dan gonti-ganti pengembangnya, sedangkan yang sudah dibangun menjadi artefak museum. Kegiatan yang menyangkut pembangunan kereta api supercepat ini dapat dilihat dari tabel berikut:
Jenis kereta api yang dibangun PT CSR co Ltd ini diberi kode produk CRH380A dengan kecepatan awal 486,1 km per jam yang sudah dioperasikan (yang didahului dengan uji coba) di jalur Beijing-Shanghai pada 3 Desember 2010. Dalam perencanaannya, kereta api ini diharapkan bisa mencapai kecepatan 574,8 km per jam, menyamai kereta api yang telah dibuat TGV (Train a Grande Vitesse), sebuah perusahaan Prancis.
Nah, bagaimana dengan situasi perkeretaapian di Indonesia? Sebetulnya kita sudah malas bicara. Apa sih susahnya mengelola sebuah urusan yang sangat urgen bagi kepentingan publik dan juga kepentingan ekonomi ini? Sebaiknya pemerintah harus lebih tegas dan cepat membenahi moda transportasi publik yang efektif ini. Bukan justru belajar ke Bogota, tetapi belajarlah ke China, yang lebih dekat dan lebih kaya. Apa yang dilakukan pemerintah sekarang ini useless, mubazir. Pemerintah tidak punya konsep apa pun tentang pembangunan ini. Ataukah ada kemungkinan pemerintah memiliki kolusi dengan industri otomotif? Saya bukan menuduh, tetapi dari fakta-fakta yang sungguh tidak masuk akal dalam manajemen perkeretaapian ini, saya curiga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar