JAKARTA. Tahun 2011, sebanyak 15 BUMN masuk menjadi pasien PT Pengelola Perusahaan Aset (PPA). Kelima belas BUMN itu merupakan kelanjutan dari program restrukturisasi Kementerian BUMN pada tahun 2010. "Memang carry over dari tahun lalu karena program restrukturisasi adalah program yang dinamis dari waktu ke waktu," ujar Sekretaris Kementerian BUMN, Mahmudin Yasin, Jumat (28/1).
Merujuk kepada data Kementerian BUMN, ke-15 BUMN itu mendapatkan penanganan yang berbeda. Misalnya untuk PT Kertas Kraft Aceh (KKA), PT Boma Bisma Indra (BBI), PT Dirgantara Indonesia (PTDI), dan PT Balai Pustaka (BP) akan dicarikan oleh mitra strategis sebagai skema mekanisme restrukturisasi. Sedangkan untuk Perum PFN, Kementerian BUMN sedang ber wacana untuk melakukan likuidasi kemudian menjadi Badan Layanan Umum Depkominfo.
Kemudian untuk Industri Sandang, Kementerian BUMN berencana untuk penjualan aset. "Untuk PAL sedang dalam monitoring restrukturisasi dan revitalisasi. Sedangkan IKI akan dicarikan dana pinjaman talangan," jelas Yasin.
Selain PAL, PT Waskita Karya juga sedang dalam monitoring restrukturisasi. PT Varuna Tirta Prakarsya masih dalam kajian awal untuk proses bisnis. Kemudian untuk PT Djakarta Lloyd dan PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) sedang dalam evaluasi rencana bisnis. Terakhir adalah PT Survey Udara Penas yang akan di Kerjasama operasikan (KSO) kan dengan Afjets Malaysia untuk modifikasi cuaca.
Direktur Privatisasi Kementerian BUMN, Pandu Djayanto lupa berapa besar suntikan dana yang sudah diberikan kepada BUMN bermasalah sepanjang tahun 2010. Menurut Pandu, angka suntikan dana itu akan terus berubah mengikuti perkembangan kebutuhan BUMN.
"Untuk KKA kita sudah mengucurkan dana talangan sebanyak Rp 162 miliar. Begitu juga dengan Djakarta Llyod kita sebesar Rp 80 miliar. Dan Waskita karya sebesar Rp 245 miliar," jelas Pandu.
Sementara itu, sumber KONTAN mengatakan hingga saat ini total dana yang sudah dikucurkan mencapai Rp 1,5 triliun. Kebutuhan dana itu untuk Merpati sebesar Rp 300 miliar, PT Waskita Karya sebesar Rp 475 miliar dan PT PAL sebesar Rp 425 miliar. Sisanya adalah KKA sebesar Rp 125 miliar, Industri Sandang sebesar Rp 25 miliar dan PTDI sebesar Rp 170 miliar. "Untuk KKA, Insan dan PTDI itu semuanya masuk dalam dana talangan," kata sumber KONTAN.
Merujuk kepada data Kementerian BUMN, ke-15 BUMN itu mendapatkan penanganan yang berbeda. Misalnya untuk PT Kertas Kraft Aceh (KKA), PT Boma Bisma Indra (BBI), PT Dirgantara Indonesia (PTDI), dan PT Balai Pustaka (BP) akan dicarikan oleh mitra strategis sebagai skema mekanisme restrukturisasi. Sedangkan untuk Perum PFN, Kementerian BUMN sedang ber wacana untuk melakukan likuidasi kemudian menjadi Badan Layanan Umum Depkominfo.
Kemudian untuk Industri Sandang, Kementerian BUMN berencana untuk penjualan aset. "Untuk PAL sedang dalam monitoring restrukturisasi dan revitalisasi. Sedangkan IKI akan dicarikan dana pinjaman talangan," jelas Yasin.
Selain PAL, PT Waskita Karya juga sedang dalam monitoring restrukturisasi. PT Varuna Tirta Prakarsya masih dalam kajian awal untuk proses bisnis. Kemudian untuk PT Djakarta Lloyd dan PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) sedang dalam evaluasi rencana bisnis. Terakhir adalah PT Survey Udara Penas yang akan di Kerjasama operasikan (KSO) kan dengan Afjets Malaysia untuk modifikasi cuaca.
Direktur Privatisasi Kementerian BUMN, Pandu Djayanto lupa berapa besar suntikan dana yang sudah diberikan kepada BUMN bermasalah sepanjang tahun 2010. Menurut Pandu, angka suntikan dana itu akan terus berubah mengikuti perkembangan kebutuhan BUMN.
"Untuk KKA kita sudah mengucurkan dana talangan sebanyak Rp 162 miliar. Begitu juga dengan Djakarta Llyod kita sebesar Rp 80 miliar. Dan Waskita karya sebesar Rp 245 miliar," jelas Pandu.
Sementara itu, sumber KONTAN mengatakan hingga saat ini total dana yang sudah dikucurkan mencapai Rp 1,5 triliun. Kebutuhan dana itu untuk Merpati sebesar Rp 300 miliar, PT Waskita Karya sebesar Rp 475 miliar dan PT PAL sebesar Rp 425 miliar. Sisanya adalah KKA sebesar Rp 125 miliar, Industri Sandang sebesar Rp 25 miliar dan PTDI sebesar Rp 170 miliar. "Untuk KKA, Insan dan PTDI itu semuanya masuk dalam dana talangan," kata sumber KONTAN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar