Senin, 27 Desember 2010

Tren Deindustrialisasi Kian Nyata

Sektor Industri , Kontribusi Manufaktur Terus Alami Penurunan
Deindustrialisasi atau perlambatan industri dalam negeri menjadi tren refleksi di akhir 2010. Ini menjadi penting, karena Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan setidaknya ada tiga indikator yang menunjukkan perekonomian nasional mengarah ke deindustrialisasi. Indikator pertama terkait dengan tingkat penyerapan tenaga kerja ke sektor industri makin menurun. “Jika dibandingkan dengan serapan tenaga kerja sektor lain seperti pertanian, pertambangan dan jasa, sangat jelas terlihat tren penurunannya,” kata Widjaya Adi, Ketua tim Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI, pekan lalu.

Berdasarkan catatan LIPI, pertumbuhan serapan tenaga kerja di sektor industri pada kurun waktu 1990-1999 mencapai 5 persen. Penurunan terlihat dengan persentase penyerapan tenaga kerja sektor industri pada kurun waktu 2000-2009 yang hanya 1,1 persen. Sedangkan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja sektor pertanian dalam waktu 2000-2009 tumbuh 1 persen, naik dibandingkan kurun waktu 1990-1999 yang berada di kisaran minus 1 persen.

Indikator kedua terlihat dari menurunnya kontribusi sektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. “Jika dibandingkan dengan sektor primer, kontribusi sektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi nasional masih sangat lemah. Padahal, besarnya kontribusi sektor primer merupakan ciri perekonomian menuju deindustrialisasi,” jelas Widjaya. Kontribusi sektor jasa melesat jauh meninggalkan sektor pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan atau industri. Jika kontribusi sektor jasa pada 2000 mencapai 37,5 persen, di 2009 kontribusinya mencapai 45 persen dari pertumbuhan ekonomi nasional.

Sedangkan indikator ketiga terlihat dari penurunan jumlah perusahaan yang bergerak di sektor industri. “Sulit mengatakan Indonesia akan terbebas dari deindustrialisasi karena tren sudah kearah sana,” ungkap Widjaya.

Menurut Widjaya, belajar dari pengalaman tiga negara yang pernah mengalami deindustrialisasi, membutuhkan waktu lama untuk pemulihan. “Jepang itu butuh waktu 10 tahun untuk pemulihan, Amerika Serikat membutuhkan waktu 20 tahun, dan Inggris membutuhkan waktu 15 tahun,” jelasnya.

Banyak Pengangguran

Sementara pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Deniey Adi Purwanto membenarkan gejala deindustrialisasi semakin terlihat. “Kita semakin menuju ke sana dan dengan kondisi tersebut semakin sulit mengurangi pengangguran serta mengentaskan kemiskinan,” ujarnya.

Deniey menjelaskan, ini merupakan masalah fundamental perekonomian Indonesia, apalagi sektor manufaktur sejak 2004 terus mengalami penurunan, dari 28,37 persen menjadi 26,16 persen di 2009 dan diperkirakan tren penurunan berlanjut pada 2010. Padahal, industri manufaktur merupakan sektor padat karya di samping sektor pertanian yang mempunyai implikasi terhadap angka pengangguran.

“Indikasi lain deindustrialisasi adalah terjadinya peningkatan industri dan ekspor barang mentah yang diikuti oleh penurunan penyaluran kredit perbankan,” ujarnya. Selain itu, gejala lainnya terlihat dari meningkatnya impor barang jadi ke Indonesia yang dapat memengaruhi industri Unit Usaha Kecil Menengah (UMKM). “Lonjakan produk impor terjadi pada sektor makanan, minuman, komestik, obat tradisional, jamu dan farmasi.

Padahal selama ini industri makanan dan minuman menjaga andalan dalam menopang perekonomian nasional,” ujar Deniey. Di sisi lain, industri nasional juga menghadapi beban-beban lain, seperti penguatan rupiah, kenaikan tarif dasar listrik serta kenaikan biaya logistik. Untuk itu, pemerintah perlu membangun kawasan industri baru, kawasan ekonomi khusus (KEK) dan pusat pertumbuhan baru untuk mencegah gejala deindustrialisasi.

“Akan lebih baik kalau pembangunan kawasan ekonomi baru bisa dilakukan di 2011 untuk menghindari deindustrialisasi,” ujarnya. Deindustrialisasi bisa berdampak pada menurunnya nilai tambah industri nasional dan tergerusnya produktivitas perekonomian. Menyusutnya peran industri manufaktur bakal membawa dampak lanjutan berupa pengangguran dan kemiskinan.

Sebab, industri manufaktur merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja, sehingga sangat berperan menekan angka pengangguran dan kemiskinan. Padahal, industri manufaktur domestik masih kental dengan muatan impor. Imbasnya, saat perekonomian tumbuh, maka akan diiringi lonjakan impor. Ini berdampak pada menurunnya surplus pada neraca transaksi berjalan atau current account.
ind/aji/E-8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar