Proses pemulihan ekonomi global terus berlanjut meskipun cenderung melambat memasuki paro kedua 2010 dan dengan kecepatan yang tidak merata di berbagai kawasan. Selain itu, pertumbuhan ekonomi negara maju dihadapkan pada krisis fiskal sejumlah negara Eropa dan tingginya angka pengangguran di AS. “Ternyata pemulihan ekonomi negara-negara emerging markets lebih kuat dibandingkan negara maju, didukung oleh konsumsi domestik yang solid dan kinerja eksternal yang terus membaik,” kata Deputi Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Juda Agung, beberapa waktu lalu.
Dia menambahkan, kenyataan ini membuka paradigma baru dalam kebijakan moneter di Indonesia. Dengan kata lain, tingginya prosiklikalitas sistem keuangan di Indonesia menuntut sinergi kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial untuk memitigasi fluktuasi ekonomi yang berlebihan. “Kebijakan moneter berpotensi mendukung stabilitas sistem keuangan melalui kemampuannya memengaruhi kondisi keuangan dan perilaku di pasar keuangan,” paparnya.
Menurut Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia, Shubham Chaudhuri, seiring dengan pergerakan Indonesia mempercepat pertumbuhan, modal asing tampaknya akan semakin memegang peranan, terutama jika sistem peraturan di Indonesia memiliki kepastian dan konsistensi yang lebih besar, dan pemerintah berusaha memperbaiki konektivitas serta dalam dan antar pulau-pulau Indonesia dengan dunia internasional.
Seperti diketahui, Bank Dunia, dalam laporan triwulannya, meminta Indonesia fokus pada penguatan aliran modal yang masuk sepanjang 2010 dan dampak peningkatan harga-harga komoditas. Tantangannya adalah untuk memaksimalkan kesempatankesempatan yang muncul sebagai akibat tingginya aliran masuk modal dan harga komoditas di samping mengelola risikonya.
Aliran masuk modal, terutama aliran portofolio, disebabkan oleh tingginya imbal hasil (yield) Indonesia, kuatnya prospek pertumbuhan, dan peningkatan kelayakan kredit dibandingkan ekonomi-ekonomi dengan penghasilan yang lebih tinggi. Termasuk di antaranya, sebagai contoh, meningkatkan insentif bagi penanaman modal asing untuk membantu mengalihkan aliran masuk ke investasi dengan jangka yang lebih panjang.
Aliran tersebut membawa manfaat, seperti menurunkan biaya pendanaan, namun juga meningkatkan keprihatinan terhadap ekonomi makro dan kehati- hatian kebijakan. Sementara permintaan dari pasar-pasar kekuatan ekonomi baru, terutama China, bersama dengan ekspansi moneter di Amerika Serikat dan negara-negara lain juga membantu mendorong harga- harga komoditas non-energi naik, termasuk harga bahan pangan dan bahan baku.
Kedua tren global tersebut mendukung posisi neraca pembayaran Indonesia serta membawa risiko karena adanya potensi pembalikan arah aliran modal dan meningkatnya inflasi di masa depan, terutama terhadap harga bahan pangan. Itu artinya, ekonomi Indonesia masih menyediakan ruang untuk tumbuh lebih besar pada masa mendatang. Soalnya, masih banyak potensi yang belum tergali di berbagai bidang yang bisa menyediakan ruang bagi pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi.
Ant/bud/E-8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar