Selasa, 28 Desember 2010

Komoditas China Terkerek Suku Bunga

SINGAPURA(SINDO) – Pasar komoditas di China kemarin terkerek setelah pekan lalu Bank Sentral China (People Bank of China/PBOC) meningkatkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin.

Ini merupakan langkah kedua kalinya yang dilakukan otoritas perbankan di Negeri Panda itu dalam dua bulan terakhir.Tujuannya tak lain untuk memerangi inflasi yang pada November lalu mencapai 5,1%,tertinggi dalam 28 terakhir. China tidak ingin harga-harga pangan dan komoditas lain terus tertekan sehingga mereka kini fokus pada fundamental ekonomi dan menghindari ancaman kekurangan pasokan. ”Ekonomi kami mengharapkan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.
Tapi melepaskan berita itu (kenaikan suku bunga) pada Hari Natal menjadi kejutan kecil bagi pasar,” kata Chen Xin Yi, Wakil Presiden Barclays Capital,di Singapura kemarin. PengumumanPBOCpada25Desember lalu direspons komoditas seperti bahan baku industri,energi, biji-bijian dan produk pertanian lainnya. Kendati demikian, Chen meyakini bahwa masih ada waktu untuk meminimalkan volatilitas yang tidak diinginkan pasar keuangan dan mengurangi potensi pergerakan modal sejauh mungkin. “Secara keseluruhan, ini sebenarnya cukup positif.
Kenaikan tingkat sebelum akhir tahun ini menunjukkan bahwa tampaknya ada beberapa upaya menegakkan konsensus Beijing untuk mengendalikan risiko inflasi,”kata Chen. Imbas kenaikan suku bunga China misalnya terlihat pada harga gandum yang pulih kembali ke kisaran USD7,81 per gantang (kurang lebih 3,13 kg) setelah sempat turun lebih dari 2%.Sementara perak yang sempat turun lebih 1,5% kembali naik ke level USD29,16 per ons.
“Kepastian itu tidak karena musimnya berakhir dan permintaan dari China menguat. Tapi lebih karena langkah cerdas yang mungkin telah menangkap pasar yang sedang lengah,” kata Mark Pervan,analis senior komoditas ANZ. Sementara komoditas lain seperti minyak mentah hingga pukul 03.15 GMT berada di posisi USD91,33, hanya turun 0,2% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu. ”Kami melihat positif terhadap permintaan minyak.
Permintaan negara-negara OECD (organisasi kerja sama ekonomi dan pembangunan) telah pulih sangat kuat tahun ini dan kemungkinan permintaan akan tetap mendukung harga minyak tahun depan,” kata Chen. Ketika China mengerek suku bunga acuan pada pertengahan Oktober lalu, nilai dolar jadi lebih tinggi dan menyeret harga emas turun lebih dari 2%. Sementara harga minyak 4%, tembaga kehilangan hampir 2,5%, jagung turun 2%,dan gandum melemah 2,7%.
Meski berbagai cara telah dilakukan Pemerintah China,kebijakan- kebijakan tersebut belum terlihat berdampak pada laju peningkatan harga komoditas.Emas,tembaga, katun, karet, gula, dan perak bahkan dilaporkan telah menyentuh angka tertinggi dalam tiga dekade. China adalah konsumen terbesar di dunia dari sejumlah produk komoditas, termasuk tembaga, bijih besi,batu bara,kapas,dan kedelai.
Selain itu, China menjadi konsumen terbesar kedua komoditas jagung, emas, dan minyak mentah. Di Pasar Shanghai kemarin, tembaga cenderung bergerak datar, sementara emas diperdagangkan di kisaran USD1.383,75 atau hanya turun 50 sen setelah sempat kehilangan sebanyak USD12 di awal perdagangan.
Permintaan Baja Jepang Diprediksi Naik
Permintaan produk baja pada kuartal I/2011 diprediksi naik 0,2% dibandingkan kuartal IV/2010. Kondisi tersebut dipicu naiknya ekspor yang mengimbangi lemahnya permintaan dalam negeri. Kendati demikian, secara tahunan (year on year) permintaan produk baja periode Januari– Maret 2011 diprediksi turun 0,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan Jepang, pada kuartal IV/2010 permintaan baja di pasar Jepang mencapai 24,22 juta ton. Sementara permintaan baja mentah untuk Oktober–Desember 2010 mencapai 26,88 juta ton. “Karena perusahaan memangkas persediaannya, kami memperkirakan produksi baja mentah akan turun 3,2% pada kuartal Januari– Maret,” ujar Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Masaki Koito kemarin.
Asosiasi Industri Baja Jepang pekan lalu menyatakan, pertumbuhan produksi baja pada November turun 5,5% atau hanya 8,98 juta ton setelah sempat naik menjadi 9 juta ton lebih pada dua bulan sebelumnya. Kementerian Ekonomi Jepang memperkirakan, produksi baja mentah hingga akhir tahun fiskal 2010 atau Maret 2011 akan mencapai 110,08 juta ton, naik 14% dibandingkan 2009/2010. (Rtr/yanto kusdiantono)  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar