Minggu, 26 Desember 2010

Keterbatasan infrastruktur jadi sandungan sektor pertambangan di 2011

JAKARTA. Keterbatasan infrastruktur menyebabkan sektor pertambangan kurang percaya diri melangkah di tahun depan.

Padahal, pemerintah mengasumsikan pertumbuhan ekonomi di 2011 sebesar 6,4%, yang salah satunya didukung dari sektor pertambangan.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, Evita H Legowo mengungkapkan, masalah infrastruktur yang menghambat sektor pertambangan berupa kapasitas infrastruktur dalam pengolahan dan pendistribusian migas yang masih terbatas.

Berdasarkan data armada nasional penunjang kegiatan usaha hulu migas masih mengalami banyak kekurangan. Sebagai contoh, belum mencukupinya kapal survey seismek 2D/3D, yaitu kapal untuk mencari kandungan minyak dan gas bumi yanga ada dibawah laut.

Sarana lain yang belum tersedia atau jumlahnya belum mencukupi yaitu untuk pengeboran yang terdiri dari Jack Up Rig, Semi Submersible Tender Rig (SSETR), Deep Water Drill Ship untuk konstruksi lepas pantai, dan tanker seperti Floating Storage Regasification Unit (FSRU), dan LPG.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia-Indonesian Coal Mainig Assosiation (APBI-ICMA), Supriatna Suhala mengamini, kendala pertambangan terutama batu bara di 2011 adalah keterbatasan infrastruktur dan teknologi yang mampu memaksimalkan hasil tambang seperti di negara maju lainnya.

Evita menjelaskan pihaknya telah melakukan upaya untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur yaitu membangun kilang minyak domestik. Usulan lain, paket insentif dari KESDM kepada KEMENKEU untuk mendukung terealisasinya pembangunan kilang minyak dalam negeri. Insentif tersebut berupa pembebasan bea masuk impor barang modal, pembebasan 100% PPN katalis dan suku cadang untuk operasional kilang minyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar