Rabu, 22 Desember 2010

Kenaikan Peringkat RI Butuh Waktu

JAKARTA(SINDO) – Fitch Rating menilai Indonesia masih butuh waktu untuk mencapai level tujuan investasi (investment grade).Sejumlah indikasi menunjukkan beberapa syarat untuk mencapai level itu belum terpenuhi.

“Kami masih memberikan outlook stabil terhadap peringkat Indonesia. Itu artinya, memungkinkan kita untuk tidak mengubah level investasi Indonesia dalam satu atau dua tahun ke depan,”ungkap Country Head Indonesia Fitch Ratings, Baradita Katoppo di Jakarta kemarin. Baradita mengatakan, atas dasar itulah Fitch Rating masih belum akan mengubah peringkat investasi Indonesia ke dalam level tujuan investasi (investment grade), dalam waktu dekat. Saat ini,Fitch ratings menetapkan peringkat investasi Indonesia pada level BB+, atau setingkat di bawah level tujuan investasi,yaitu BBB-.

Penetapan peringkat tersebut umumnya berubah jika outlook meningkat dari level stabil ke level positif.Namun jika melihat beberapa faktor yang ada saat ini, kenaikan itu masih memerlukan waktu. Beberapa faktor yang menjadi acuan kenaikan, antara lain, rasio penerimaan tax (tax ratio), pendapatan per kapita, dan penanaman modal asing (foreign direct investment/FDI), masih belum memenuhi ketentuan.

“Rasio penerimaan pajak (tax ratio) kita masih relatif kecil.Kemudian pendapatan per kapita penduduk Indonesia juga masih tergolong rendah, belum lagi jika menilik foreign direct investment kita yang belum sustainable,”kata Baradita. Belum terpenuhinya ketentuan itu, lanjut dia, bukan berarti kenaikan peringkat investasi Indonesia tertutup. Baradita melanjutkan, peluang naik ke level investment grade, masih ada,namun dalam batas waktu yang belum bisa ditentukan sampai kapan.

“Kita lihat seperti apa perkembangan dari faktor-faktor itu,”tuturnya. Dia melanjutkan, jika peringkat Indonesia mampu menembus level investasi,maka banyak keuntungan yang akan didapat negara maupun emiten-emiten yang ada. Belum masuknya Indonesia dalam level tersebut, membuat investor yang masuk ke dalam pasar modal domestik banyak berasal dari kalangan spekulan semata.

“Kondisi tersebut membuat biaya investasi (cost of funds), yang harus ditanggung oleh pasar modal kita menjadi lebih besar,”paparnya. Kalangan analis menilai peringkat investasi Indonesia tinggal satu tahap lagi menuju level investasi. Dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil,kenaikan peringkat investasi tinggal menunggu waktu. Sehingga, jika kenaikan tersebut bisa terjadi tahun depan, itu akan mendorong masuknya aliran dana asing yang lebih besar. Aliran dana asing tersebut,akan membuat level indeks akan kembali menembus level baru tahun depan.

“Targetsaya,indeksbisamenembus level 4.429.Nilai itu dilihat berdasarkan analisis teknikal terhadap siklus pergerakan bursa saham domestik,” ujar analis PT Samuel Sekuritas, Muhammad Alfatih. Kenaikan tersebut juga didukung secara fundamental, yaitu pertumbuhan kinerja emitenemiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).Kondisi yang kondusif tersebut, juga akan membuat perusahaan- perusahaan bagus melakukan pencatatan di BEI.Disamping juga sejumlah rencana merger dan penerbitan saham baru (rights issue).

“Ini tentu akan menambah semarak perjalanan pasar modal Indonesia kedepan,” ujar analis PT Bhakti Securities,Edwin Sebayang. Berdasarkan data yang dihimpun SINDO,setidaknya akan ada delapan perusahaan yang siap untuk melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO), satu perusahaan yang akan melakukan proses merger dan akuisisi serta dua buah perusahaan yang berencana menerbitkan penerbitan saham baru atau rights issue.

Sementara untuk penerbitan obligasi korporasi juga akan marak. Itu dikarenakan, kebutuhan akan modal kerja dan investasi juga mengalami peningkatan.Selain itu, suku bunga yang masih rendah tahun depan, juga memicu emiten memilih opsi pendanaan melalui surat utang ini.“Penerbitan obligasi merupakan salah satu alternatif pendanaan yang memiliki biaya paling rendah,”kata Baradita.

Sebagai negara yang memiliki banyak perusahaan, Indonesia dinilai akan sangat potensial menjadi acuan pasar obligasi di dunia.Itu didasarkan atas besarnya penawaran dan permintaan akan surat utang di Indonesia.“Penerbitan obligasi terutama berasal dari lembaga keuangan,”tambahnya. (juni triyanto)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar