JAKARTA. Di luar dugaan banyak kalangan, industri sektor non migas lainnya masih tumbuh lumayan. Usai ditempa krisis dan tertekan Perjanjian Bebas ASEAN-China atau ASEAN-China Free Trade Agreement, industri sektor non migas mulai menggeliat.
Kementerian Perindustrian mencatat, sepanjang Januari-September 2010 industri non migas tumbuh 4,69% dari periode sama tahun 2009. Tahun lalu, industri non migas Indonesia hanya tumbuh 1,54% ketimbang tahun 2008.
MS Hidayat, Menteri Perindustrian, Rabu (22/12), menerangkan, industri yang mencetak pertumbuhan tertinggi ialah alat angkut, mesin, dan peralatannya. Sektor ini bisa tumbuh 8,47%, jauh lebih tinggi dari kinerja sembilan bulan 2009 yang minus 3,25%.
Bahkan beberapa sektor industri yang terpuruk selama tahun lalu, kini mulai bangkit kembali dan tak separah tahun lalu. Tengok saja industri pupuk kimia dan barang dari karet, industri logam dasar, besi dan baja, industri kayu dan hasil hutan, serta industri semen dan bahan galian non logam.
Dari sekian banyak sektor industri, Indonesia patut berterimakasih pada industri makanan, minuman dan tembakau. Maklum, sektor ini berkontribusi sekitar 34,35% terhadap total produk domestik bruto (PDB) Indonesia dari sektor non-migas. Industri transportasi dan mesin menjadi kontributor kedua (28,13%). "Rokok berkontribusi besar terhadap pajak dan tenaga kerja," kata Hidayat.
Sisi positif lain, jumlah tenaga kerja yang terserap juga makin banyak. Hidayat menerangkan, tenaga kerja manufaktur tahun ini diperkirakan mencapai 14,4 juta orang atau bertambah 386.640 dari tahun lalu. Penambahan tenaga kerja ini terjadi pada industri makanan, minuman, dan tembakau sebesar 171.185 orang.
Sofjan Wanandi, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) melihat, pengusaha tetap menemui kendala keterbatasan bahan baku dan energi, sehingga biaya produksi dan harga jual tetap tinggi. Produk lokal pun kalah bersaing dengan produk impor.
Walhasil, pertumbuhan industri di Tanah Air masih rapuh. "Angka pertumbuhan ini karena faktor alami yakni pertambahan penduduk, bukan daya saing," ucapnya.
Kementerian Perindustrian mencatat, sepanjang Januari-September 2010 industri non migas tumbuh 4,69% dari periode sama tahun 2009. Tahun lalu, industri non migas Indonesia hanya tumbuh 1,54% ketimbang tahun 2008.
MS Hidayat, Menteri Perindustrian, Rabu (22/12), menerangkan, industri yang mencetak pertumbuhan tertinggi ialah alat angkut, mesin, dan peralatannya. Sektor ini bisa tumbuh 8,47%, jauh lebih tinggi dari kinerja sembilan bulan 2009 yang minus 3,25%.
Bahkan beberapa sektor industri yang terpuruk selama tahun lalu, kini mulai bangkit kembali dan tak separah tahun lalu. Tengok saja industri pupuk kimia dan barang dari karet, industri logam dasar, besi dan baja, industri kayu dan hasil hutan, serta industri semen dan bahan galian non logam.
Dari sekian banyak sektor industri, Indonesia patut berterimakasih pada industri makanan, minuman dan tembakau. Maklum, sektor ini berkontribusi sekitar 34,35% terhadap total produk domestik bruto (PDB) Indonesia dari sektor non-migas. Industri transportasi dan mesin menjadi kontributor kedua (28,13%). "Rokok berkontribusi besar terhadap pajak dan tenaga kerja," kata Hidayat.
Sisi positif lain, jumlah tenaga kerja yang terserap juga makin banyak. Hidayat menerangkan, tenaga kerja manufaktur tahun ini diperkirakan mencapai 14,4 juta orang atau bertambah 386.640 dari tahun lalu. Penambahan tenaga kerja ini terjadi pada industri makanan, minuman, dan tembakau sebesar 171.185 orang.
Sofjan Wanandi, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) melihat, pengusaha tetap menemui kendala keterbatasan bahan baku dan energi, sehingga biaya produksi dan harga jual tetap tinggi. Produk lokal pun kalah bersaing dengan produk impor.
Walhasil, pertumbuhan industri di Tanah Air masih rapuh. "Angka pertumbuhan ini karena faktor alami yakni pertambahan penduduk, bukan daya saing," ucapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar