Oleh Thomas Koten
"Januari mengeras di tembok itu juga, lalu Desember.
Musim pun masak sebelum menyala cakrawala
Tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu". Sapardi Djoko Damono.
Kutipan karya Sapardi Djoko Damono, berjudul Buat Ning, di atas, tidak lebih merupakan potret tentang pergantian tahun yang selalu dirayakan oleh seluruh umat manusia di planet bumi ini. Dan kini, kita pun kembali merayakan pergantian tahun; meninggalkan tahun 2010 dan menyongsong tahun 2011, dengan terus mengurai bergulirnya lembar demi lembar kisah keberhasilan dan kegagalan dalam kehidupan pribadi, kelompok , masyarakat, dan bangsa.
Sebagai sebuah bangsa yang besar, mengurai perjalanan tahun demi tahun yang terus berganti --meminjam kata Arnold Toynbee-- tantangan dan tanggapan (challenge and respond) kita atas bergulirnya kehidupan ngeri dan bahaya (vivere pericoloso). Seperti yang kita alami selama ini, dari segala penjuru negeri dikepung aneka bencana, ganasnya perubahan iklim, epidemik penyakit, amoralitas, dan kejahatan-kejahatan yang berpejal sebagai bahaya kehidupan semesta. Hanya saja, sebagai bangsa yang beriman, kita tentu yakin bahwa tidak selamanya kehidupan ini dibekap kesuraman dan kegelapan. Selalu ada sinar terang di balik awan hitam.
Muncul pertanyaan, bagaimana agar bangsa ini dapat menyongsong tahun 2011 secara lebih sukses daripada tahun 2010?
Belajar dari sejarah
Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan mudah sejauh kita sanggup belajar dari sejarah masa lampau dengan segala kegagalan dan keberhasilannya. Karena bukankah "pengalaman adalah guru terbaik?". Dan ini ditulis secara menarik oleh David Kolb, sang penggagas the clenical experiental learning model di Amerika Serikat, bahwa pengalaman nyata masa lampau dan masa kini adalah titik pembelajaran dan tumbuh kembang hasi esok yang akan dialami oleh bangsa yang mau belajar dan bersedia mengubah nasibnya dan terus belajar dan ingin maju. Pengalaman adalah sumber sejarah inspiratif pembelajaran dan tumbuh kembang menuju kesuksesan.
Dan, secara lebih detail dilukiskan Ernest Renan lewat artikel pendeknya What is a nation, bahwa kebangsaan hari esok mesti dipahami sebagai suatu bentukan solidaritas moral yang dipupuk dan dipertahankan melalui kesadaran sejarah yang khas. Tanpa kehendak dari warga bangsanya untuk melanjutkan kehidupan bersama, suatu bangsa akan mengalami keterpurukan dan tenggelam ditelan sejarah. Dilukiskannya, kehendak sadar hari ini merupakan titik temu dari evaluasi pengalaman kehidupan berbangsa di masa lalu dengan proyeksi kehidupan berbangsa di masa depan.
Artinya, apabila hendak membangun masa depan yang gilang-gemilang, sebuah bangsa harus berpijak pada pengalaman sejarah bangsa pada masa silam dengan titik tolak masa kini. Ini pula yang sejak awal sudah disadari oleh para pendiri bangsa kita dalam membangun keindonesiaan kita. Itu terlihat dari rujukan yang kerap dibuat para pendiri bangsa terhadap zaman keemasan Melayu, Sriwijaya, Mataram, Mahapahit, Padjadjaran. Bahwasanya, kebangsaan selalu dijangkar pada janji-janji masa depan yang bisa jadi sangat ilusif namun sangat kuat dalam membangkitkan imajinasi kolektif. Inilah yang disebut Benedict Anderson dalam imagined communities (komunitas terbayang). Adalah terbentuknya suatu negara bangsa dilandasi oleh sebuah utopia bersama untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Dan semua itu secara jelas dikemukakan Bung Karno bahwa "kemerdekaan" adalah "jembatan emas, di seberangnya akan diwujudkan masyarakat adil dan makmur". Di depan pengadilan penjajah (1930), sang proklamator menegaskan bahwa perjuangan partainya adalah untuk "membangkitkan dan menghidupkan keinsafan rakyat akan ia punya "masa silam yang indah", masa kini yang gelap gulita, dan janji-janji suatu masa depan yang melambai-lambai, berseri-seri."
Dan jika ditilik, fenomena kebangsaan semacam ini, dialami juga oleh banyak negara, terutama negara bekas jajahan. Negeri imigran seperti Amerika Serikat pun demikian, yang tertuang dalam motto klasiknya yang terkenal dengan sebutan the American dream. Dan itu termaktub pula lewat ungkapan lain First-Lady Amerika, Eleanor Roosevelt, The future belongs to those who believes in the beauty of their dreams. Sebuah kalimat yang terkesan bagai khayalan belaka, namun sesungguhnya menyembunyikan semacam semangat dan keyakinan akan masa depan yang gemilang. Dan ungkapan itu pulalah yang menjadi obor yang sanggup membakar semangat juang rakyat Amerika Serikat untuk keluar dari krisis besar yang menimpanya, sekaligus menyukseskan program 100 hari pertama Presiden Roosevelt yang diikuti oleh banyak pemimpin negara di dunia hingga sekarang.
Membangun kepercayaan diri
Bagaimana dengan Indonesia dalam menyonsong tahun 2011 dan menapaki masa depan secara lebih sukses? Kata Bung Karno, kita perlu bermimpi dan menggantungkan mimpi setinggi bintang di langit. Mengapa? Karena, seperti ungkapan Eleanor Roosevelt di atas, "Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan mimpinya". Maka, persoalannya, tergantung bagaimana kita membangun mimpi dan merealisasikan mimpi-mimpi bangsa soal negara adil, makmur dan sejahtera. Untuk ini, kata Bung Karno lagi, "Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib Tanah Air di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya." Ungkapan inilah yang kemudian dituangkan Bung Karno dalam konsep "Berdikari; berdiri di atas kaki sendiri".
Maka, tugas kita sekarang adalah berjuang mentransformasikan segala cita-cita dan mimpi-mimpi kita dalam bingkai imajinasi keindonesiaan tahun 2011 secara lebih sukses dengan melepaskan segala bentuk ketergantungan menuju kemandirian. Dalam menyongsong Tahun Baru 2011 ini bangsa Indonesia perlu semakin menyadari betapa pentingnya membangun sebuah masyarakat bangsa dengan bertumpu pada kemampuan sendiri dan percaya pada diri sendiri. Transformasi dari segala bentuk ketergantungan menuju kemandirian memang diperlukan untuk mendorong kita lebih optimis dalam melanjutkan pembangunan nasional.
Namun, semua itu hanya bisa tercapai lewat kerja keras, kerja sama, dan saling mendukung, bukan hanya meratapi nasib, mengutuk keadaan, apalagi mencari kambing hitam. Seperti pidato Bung Karno pada 17 Agustus 1949, "Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elan rajawali".
Penulis, Direktur Social Development Center
Tidak ada komentar:
Posting Komentar