Selasa, 21 Desember 2010

Fungsi FTZ Batam Menjadi Bias

Kawasan Khusus , Investor Manufaktur Bergeser ke Sektor Jasa
Struktur ekonomi Kota Batam sedang mengalami perubahan dan bergeser dari industri ke perdagangan serta jasa yang ditandai dengan maraknya pembangunan pusat perbelanjaan dan properti. Oleh karenanya, fungsi Free Trade Zone (FTZ) yang awalnya diharapkan bisa meningkatkan investasi di sektor industri menjadi bias. Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, mengatakan ekonomi Batam saat ini sedang mengalami pergeseran dari sektor industri ke sektor perdagangan serta jasa.

Itu bisa dilihat dari maraknya pertumbuhan pusat perbelanjaan dan properti untuk perkantoran dan perumahan penduduk. “Tanpa kebijakan FTZ pun, Batam seharusnya bisa memanfaatkan kedekatan geografi s dengan Singapura dan Selat Malaka, dan itu harus disyukuri dengan terus membangkitkan perekonomiannya serta membuat strategi dan terobosan ekonomi,” kata Faisal dalam seminar Prospek FTZ dan Outlook Ekonomi 2011 di Batam, beberapa waktu lalu.

Konsekuensinya, kata Faisal, kontribusi sektor industri terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) dan pertumbuhan ekonomi Batam secara keseluruhan menyusut, digantikan oleh sektor perdagangan serta jasa. Namun, peluangnya sudah terlihat sejak lima tahun terakhir. Angka pertumbuhan PDRB sektor industri pengolahan di Batam rata-rata kurang dari 2 persen, lebih rendah dibanding pertumbuhan nasional yang 2,02 persen.

Bank Indonesia Batam bahkan mencatat pertumbuhannya hanya 1,52 persen (q-o-q) pada triwulan ketiga 2010. Adanya pergeseran ekonomi di Batam akan membawa konsekuensi arah kebijakan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan. Untuk itu, Otorita Batam yang sudah berganti nama menjadi Badan Pengusahaan FTZ Batam serta Pemerintah Kota Batam harus bersiap untuk menyesuaikan rencana kebijakannya dengan kondisi tersebut.

Salah satunya kebijakan alokasi lahan yang dikeluarkan oleh Otorita Batam perlu dipertimbangkan untuk dievaluasi peruntukannya, apakah lebih besar untuk industri atau untuk sektor perdagangan serta jasa. Evaluasi peruntukan lahan bisa dilakukan untuk lahan yang masih kosong dan lahan yang masa penggunaannya sudah habis digunakan selama 30 tahun. Untuk lahan kosong yang baru akan dialokasikan mungkin peluangnya kecil karena saat ini hampir seluruh lahan yang ada di Batam sudah dialokasikan.

Peluangnya hanya untuk lahan yang sudah habis masa kelolanya atau kontrak selama 30 tahun, apakah akan diperpanjang oleh Otorita Batam kepada pengguna lahan tersebut atau akan ditarik kembali untuk dialokasikan ke pengguna yang baru.

Fungsi Bergeser

Anggota DPR RI dari Komisi XI yang berasal dari Provinsi Kepulauan Riau, Harry Azhar Azis, berkomentar, status FTZ yang diberikan pada Batam, Bintan, dan Karimun idealnya berfungsi untuk menarik sebanyak- banyaknya investor, khususnya dari luar negeri, untuk membangun pabrik yang bisa menyerap sebanyak-banyaknya tenaga kerja Indonesia. Pabrik atau perusahaan yang banyak menyerap tenaga kerja di antaranya pabrik elektronik, galangan kapal, garmen, dan manufaktur lainnya.

Sedangkan pusat perbelanjaan atau mal hanya menyerap sedikit tenaga kerja dan hanya menguntungkan pengelolanya. Oleh karena itu, katanya, pergeseran struktur ekonomi Batam yang terjadi saat ini akan menjadi salah satu poin bagi DPR untuk mengevaluasi kembali regulator yang ada di Batam, Bintan, dan Karimun sekaligus mengevaluasi kembali status FTZ bagi kawasan itu. Sementara itu, Kepala Bagian Humas dan Publikasi BP Batam Dwi Joko Wiwoho mengatakan status FTZ masih memberi dampak positif terhadap pertumbuhan nilai investasi di Batam.

Itu bisa dilihat dari nilai investasi yang direncanakan investor asing ke Batam sebesar 358,514 ribu dollar AS selama Januari sampai November 2010. Nilai investasi itu relatif mengalami pertumbuhan jika dibanding periode sama tahun lalu. Menurut Joko, meski dengan anggaran terbatas, BP Batam yang dahulu bernama Otorita Batam tetap berkeyakinan pertumbuhan ekonomi Batam tahun 2011 lebih baik dibanding 2010 ini.

Untuk itu, BP Batam membuat program yang lebih spesifik dengan menargetkan investasi yang masuk dalam lima tahun ke depan diproyeksikan senilai 2,1 miliar dollar AS. Untuk mencapai target tersebut, BP Batam akan melakukan beberapa hal, antara lain menyiapkan lokasi yang benarbenar kompetitif, mempromosikan jenis industri yang mampu bersaing, melakukan promosi yang lebih terarah (targeted FDI promotion), penyediaan pelayanan prima (one-stop-shop), dan penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas.
gus/E-8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar