Selasa, 28 Desember 2010

Fundamental membaik, posisi dollar AS kian perkasa

JAKARTA. Selama empat hari terakhir, pamor mata uang dollar Amerika Serikat (AS) makin mentereng. Hingga pukul 12:05 WIB, Senin (27/12), pasangan EUR/USD di level 1,3128, naik 0,04% dari posisi akhir pekan lalu. Indeks dollar AS juga sempat tumbuh 0,2%. Indeks ini mencerminkan posisi dollar AS terhadap enam mata uang utama dunia.

Menurut dealer valuta asing Bank BRI, Rachmat Wibisono, penguatan dollar AS ditopang oleh membaiknya indikator ekonomi negeri Paman Sam. Misalnya data tingkat kepercayaan konsumen yang diperkirakan positif serta klaim pengangguran yang cenderung menurun.
Median para ekonom yang disurvei Bloomberg menunjukkan, indeks kepercayaan konsumen diprediksi sebesar 56,4% di bulan Desember, atau meningkat 2,3% dari bulan sebelumnya 54,1%. Data indeks tersebut akan diumumkan hari ini (28/12).
Daisaku Ueno, Presiden Gaitame.com Research Institute Ltd, di Tokyo, menyatakan investor akan mencermati data consumer confidence untuk melihat prospek ekonomi di AS. “Angka positif akan mendorong dollar AS lebih tinggi lagi,” kata dia, seperti dikutip Bloomberg.
Secara teknikal, menurut Rachmat, sejak awal November dollar AS menguat terhadap euro, dan bertahan di area resistance pasangan EUR/USD 1,3-1,4. Menanjaknya dollar AS juga tak lepas dari krisis yang melanda sejumlah negara Eropa.
Akhir pekan lalu (23/12), Fitch Ratings menurunkan peringkat kredit Portugal dari A+ menjadi AA-. Sedangkan Moody's Investor Service memotong peringkat kredit Irlandia pada 17 Desember 2010 sebanyak lima level menjadi Baa1. Secara kontras, Moody's masih tetap memberikan peringkat AS di level Aaa dan tak terancam melorot di tahun ini maupun tahun depan.
Suku bunga China
Nico Omer Jonckheere, Vice President Valbury Asia Futures, mengatakan, penurunan peringkat tersebut sebetulnya tak terlalu banyak mempengaruhi posisi euro. Pasalnya, kondisi ekonomi AS juga tak jauh berbeda dari Eropa.
Herry Setiawan, analis Indosukes Futures, menambahkan, pasangan EUR/USD sangat bergantung pada perkembangan ekonomi AS dan Eropa. Ekonomi negeri Paman Sam masih berpotensi melemah dengan adanya stimulus (quantitative easing) tahap kedua senilai US$ 600 miliar. Ini menyebabkan dollar membanjir di pasar. Di sisi lain, Eropa masih bermasalah dengan krisis ekonomi yang terancam semakin meluas.
Nico melihat euro akan rebound pada minggu ini di kisaran 1,30-1,34. Hingga kuartal I 2011 pasangan EUR/USD diprediksi 1,25-1,40. Menurut Rachmat, secara teknikal euro telah mengalami over sold sebesar 22% sehingga berpotensi bangkit lagi. "Selama minggu ini EUR/USD di kisaran 1,3-1,33," imbuh Rachmat.
Kenaikan suku bunga China dinilai tidak akan berdampak langsung terhadap dollar AS. Hanya saja, mata uang yuan bakal menguat terhadap dollar AS. Dengan naiknya yuan, kata Herry, seharusnya menguntungkan ekonomi Amerika. Pasalnya, untuk mengekspor ke China, harga produk AS bakal lebih murah dari sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar