Kamis, 23 Desember 2010

Efek Pengganda APBN Rendah

JAKARTA(SINDO) – Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E LIPI) menilai,efek pengganda dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) masih rendah. P2E LIPI juga menilai, tingginya pertumbuhan ekonomi belum nasional belum menjawab persoalan bangsa, terutama kaitannya dengan kesejahteraan masyarakat. Padahal, ekonomi nasional diperkirakan masih akan terus tumbuh di masa-masa mendatang,didasari capaian selama tahun 2010 yang positif. Dari sisi makroekonomi, LIPI memproyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2011 mencapai 6,3%.

“Hanya disayangkan,berdasarkan data yang ada, pertumbuhan itu tidak terkait erat dengan kesejahteraan masyarakat,”ujar Ketua Tim P2E LIPI Widjaya Adi dalam konferensi pers bertajuk “Outlook Ekonomi Indonesia 2011”di Jakarta kemarin. Indikator yang dipakai P2E LIPI adalah tingkat pengangguran dan kemiskinan.Berdasarkan indikator tersebut, pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum mampu menyerap tenaga kerja secara maksimal.

Bahkan, pengangguran terbuka didominasi kalangan yang berpendidikan tinggi. P2E LIPI mengatakan, selama ini pemerintah cenderung menggunakan data pengangguran terbuka (open unemployment) dalam membahas masalah pengangguran nasional.Menurut dia, jika menggunakan data pengangguran terbuka, tren pengangguran memang terlihat menurun.


Namun, LIPI menggunakan pendekatan yang lebih spesifik dengan mengambil data setengah pengangguran.Data tersebut mengedepankan masyarakat yang mencari kerja, sedang tidak bekerja, bekerja hanya dua jam sehari, dan bekerja di atas 35 jam selama sepekan. Dengan data ini,tegas Adi,akan lebih jelas terlihat tingkat kesejahteraan masyarakat. Seseorang yang bekerja lebih dari 35 jam selama sepekan,jelas dia,akan lebih sejahtera bila dibandingkan mereka yang bekerja hanya dua jam sehari.“ Maka, jika digunakan data setengah pengangguran itu,maka trennya cenderung meningkat. Tahun 2005 (pengangguran) masih 29,642 juta, tahun 2011 kita proyeksikan 34,32 juta. Ini berkaitan dengan kesejahteraan,”katanya. Indikator lain yang dipergunakan adalah tingkat kemiskinan.

Dilihat dari sisi anggaran negara, lanjut dia, diakui terjadi peningkatan setiap tahunnya sejak tahun 2000 hingga 2010. Sementara, pemerintah mengklaim berhasil meningkatkan status penduduk miskin. Jumlah penduduk miskin terus mengalami penurunan dari 38,7 juta pada tahun 2000 menjadi 31 juta pada tahun ini. Tapi menurut dia, program PNPM yang digalakkan pemerintah dan diyakini sebagai program yang dapat mengurangi angka kemiskinan belum mampu mengangkat kesejahteraan. “Kalau kita lihat anggaran yang digunakan untuk mengentaskan satu orang miskin, jumlahnya cukup besar.Tahun 2010 untuk mengentaskan satu orang miskin dibutuhkan Rp47 juta,” paparnya.

Peneliti LIPI lainnya, Latief Adam menyoroti lemahnya efek pengganda APBN terhadap pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan data yang ada, setiap Rp1 yang dikeluarkan dari kas negara,hanya mampu menggeneralisasi efek pengganda sebesar 1,16%.Menurut dia, laju perekonomian yang tinggi idealnya juga diikuti efek pengganda yang tinggi dari APBN. Seharusnya, kata dia, jika menginginkan efek pengganda yang besar dari APBN,maka pemerintah harus jeli melihat penekanan alokasi anggaran negara.

Selama ini,kata dia,alokasi besar hanya untuk membayar utang, subsidi, dan belanja pegawai.“Tapi,kita mengapresiasi pemerintah sudah meningkatkan alokasi belanja modal dalam APBN 2011,misalnya untuk infrastruktur. Mudah-mudahan output yang tercipta jadi tinggi,”tuturnya. Sementara itu, pemerintah mengklaim telah mengelaborasi APBN untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2011.SekretarisMenteriPerencanaan Pembangunan Nasional (PPN/- Sestama Bappenas menjelaskan, dengan meletakkan APBN ke sektor- sektor yang menjadi prioritas pemerintah,dapat diartikan APBN mendukung target pertumbuhan. (wisnoe moerti)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar