Selasa, 28 Desember 2010

2012,BUMN Perkebunan Go Public

JAKARTA (SINDO)— Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan, penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) BUMN perkebunan kemungkinan bisa direalisasikan pada 2012.

Pencatatan saham BUMN perkebunan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) menunggu rampungnya pembentukan induk usaha (holding) 15 BUMN perkebunan itu. Deputi Menteri BUMN Bidang Industri Primer Megananda Daryono mengatakan, jika holding BUMN perkebunan terbentuk tahun depan, IPO BUMN perkebunan bisa dilaksanakan pada tahun berikutnya. “Holding dulu, baru setelah itu IPO,” kata dia di Jakarta kemarin.
Dia menjelaskan, dari sektornya yang akan di-holding-kan pada tahun depan adalah BUMN perkebunan, yakni 14 PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I-IV serta lima BUMN kehutanan, yakni PT Inhutani I-IV dan Perum Perhutani. Adapun, pemegang saham saat ini masih memperdalam bentuk holding BUMN kebun, apakah berdasarkan komoditas atau wilayah. Sementara, BUMN perkebunan yang sempat menyatakan kesiapannya untuk menjadi perusahaan terbuka,yakni PTPN III,IV,dan VII.
Terkait IPO tiga BUMN perkebunan ini, Megananda mengaku, belum membahas rencana IPO BUMN tersebut. Adapun BUMN yang diusulkan pemegang saham masuk dalam program privatisasi BUMN 2011 kepada komite privatisasi sebanyak empat BUMN. Keempat BUMN itu, yakni PT Jasindo, PT Hutama Karya,PT Semen Baturaja, dan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti). Dikonfirmasi mengenai rencana IPO tersebut, Direktur Utama PT Inti, Irfan Setiaputra enggan membicarakan lebih banyak. “Tunggu awal tahun,kita baru akan membicarakannya pada Januari 2011,”kata dia.
Untuk mencatatkan saham di lantai bursa,menurut dia, perseroan perlu melakukan sejumlah persiapan menuju perusahaan terbuka. Seiring itu, perseroan akan berupaya meningkatkan kinerja. Tahun ini,perseroan menargetkan pendapatan sekitar Rp600 miliar dan tahun depan sebesar Rp1 triliun, sedangkan target laba bersih perseroan akhir tahun ini lebih dari Rp3,5 miliar, dengan target tahun depan naik enam kali lipat menjadi Rp19 miliar.
Peningkatan laba bersih itu berasal dari sejumlah proyek yang akan dilakukan perseroan, diantaranya kerjasama dengan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) berupa modernisasi jaringan akses primer tembaga Telkom menjadi jaringan akses fiber optik, dan kerjasama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero berupa pembuatan mesin pencatat digital pemakaian prabayar listrik atau KWH Meter prabayar.
Mengenai nonpublic listed company (NLPC) PT Pertamina (Persero), Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan mengatakan, menunggu payung hukum dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK).“Kami menunggu payung hukum dari Bapepam karena selama ini belum ada,”ujar dia. Sebelumnya, perusahaan minyak dan gas (migas) pelat merah tersebut menyatakan, selain menunggu payung hukum juga menyelesaikan audit laporan keuangan 2010 selambat-lambatnya April 2011.
Untuk menjadi NLPC, BUMN migas tersebut harus memiliki laporan keuangan yang positif selama tiga tahun berturutturut. Sementara untuk audit laporan keuangan 2009, diperkirakan akan rampung akhir Desember lantaran saat ini sudah masuk tahap finalisasi. (jerna)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar