Sabtu, 27 November 2010

Tersandera Para Deposan Besar

Elemen penting yang dinantikan dari perbankan adalah penentuan suku bunga kredit. Banyak pihak tentunya berharap suku bunga kredit bisa diturunkan agar dapat menggerakkan bisnis dan pertumbuhan ekonomi. Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan bahwa perbankan diharapkan lebih mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dengan penyaluran kredit.

“Apalagi sekarang tabungan masyarakat sudah hampir 2.000 triliun rupiah,” ujarnya. Dana tersebut, lanjut Hatta, cukup potensial menjadi sumber pembiayaan pembangunan. “Ini cukup besar. Oleh karena itu, ke depan mungkin perlu ada instrumen yang bisa mendorong agar dana ini bisa digunakan untuk kebutuhan jangka menengah- panjang, seperti pembangunan infrastruktur,” tegasnya.

Agar potensi tabungan domestik dapat menjadi sarana pembiayaan pembangunan, tambah Hatta, suku bunga kredit harus rendah. “Kami ingin interest rate turun. Rentang antara suku bunga kredit dan deposito diharap bisa ditekan agar bisa kompetitif,” katanya. Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa mengatakan sektor riil sangat bergantung pada pembiayaan perbankan.

“Saat ini, akses terhadap pembiayaan sedikit terhambat karena suku bunga kredit masih tinggi,” tegasnya. Suku bunga kredit yang tinggi, lanjut Erwin, disebabkan oleh likuiditas antarbank yang tidak seimbang sehingga masih ada bank yang menawarkan rate deposito tinggi. Ketua Komite Tetap Bidang Perdagangan Dalam Negeri Kadin Indonesia Bambang Soesatyo mengatakan suku bunga kredit seharusnya sudah bisa turun.

“Idealnya, suku bunga harus turun. Kalau bisa di bawah 10 persen, itu luar biasa,” ujarnya. Selain itu, Bambang melihat kalangan perbankan masih menilai sektor riil berisiko tinggi untuk diberikan kredit. “Tentu saja ini harus dicari jalan keluarnya. Menurut saya, BI perlu berdialog dan membangun kesepakatan dengan bank-bank umum untuk menurunkan suku bunga,” tegasnya.

Perbankan nasional, menurut Bambang, saat ini tersandera oleh para deposan besar sehingga suku bunga deposito dan kredit sulit turun signifi kan. Jika terus terjadi, sektor riil tidak bisa bergerak. “Perbankan kita kini disandera segelintir deposan besar yang menyebabkan suku bunga pinjaman bank di dalam negeri nyaris tak bisa diturunkan. Ini fakta, dan sudah diakui BI sendiri,” tegas Bambang.

Jika terus berlanjut, tambah Bambang, pemulihan ekonomi akan berjalan lambat. “Pemulihan sektor riil dan UMKM tidak bisa diwujudkan,” ujarnya. Untuk menurunkan bunga pinjaman, lanjut Bambang, bunga deposito harus diturunkan. “Namun, hampir semua bank tidak berani menurunkan bunga deposito karena segelintir deposan besar menolak dan mengancam memindahkan depositonya ke bank lain,” katanya.

Hal tersebut, menurut Bambang, menjadi salah satu faktor penyebab tidak efektifnya BI Rate sebagai sebagai acuan suku bunga bank-bank umum. “Juga merefl eksikan hilangnya wewenang BI sebagai regulator,” ujarnya. Fungsi koordinasi penurunan suku bunga perbankan, demikian Bambang, harus dilakukan BI dan pemerintah.

“Sekaranglah momentumnya menurunkan suku bunga dan mengakhiri penyanderaan sistem ekonomi kita oleh segelintir deposan besar,” tegasnya.
aji/E-3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar