PERTUMBUHAN perbankan syariah yang pesat membuka peluang kerja yang besar bagi tenaga profesional di bidang keuangan yang berdasarkan prinsip Islam.
Hingga akhir 2010 diperkirakan industri perbankan syariah di Indonesia membutuhkan sekitar lebih dari 20.000 orang. Dalam lima tahun ke depan,diperkirakan perbankan syariah akan membutuhkan sekitar 40.000 orang, dengan asumsi pertumbuhan bank syariah per tahun mencapai 20–30%.Pertumbuhan pesat dan terbukanya peluang kerja yang sangat besar hingga kini belum diikuti kesiapan lembaga pendidikan untuk mengantisipasi kebutuhan tersebut.
Ada kesenjangan pertumbuhan antara lembaga keuangan syariah dan kesiapan dunia pendidikan dalam menyediakan lulusan yang memiliki kompetensi keuangan sekaligus paham syariah Islam. Kekurangan SDM secara kuantitas dan kualitas mengakibatkan beberapa institusi keuangan syariah mengatasi kebutuhan mendesak dengan memakai tenaga kerja dari bank konvensional yang kemudian diberikan pelatihan internal untuk menjadi bankir syariah.
Kecenderungan ini tak jarang memunculkan beberapa masalah. Beberapa pelayanan di bank syariah dianggap kurang islami, kurang mampu memberikan penjelasan yang benar dan akurat sehingga bisa berpotensi mengurangi kepercayaan nasabah. Juga dikhawatirkan munculnya kebijakan yang belum sepenuhnya mencerminkan nilai syariah akibat paradigma tenaga profesionalnya yang belum lepas dari sistem konvensional.
Di Indonesia,pesatnya pertumbuhan bank syariah dan minimnya tenaga profesional sempat memunculkan fenomena saling membajak tenaga handal. Karena itu, Bank Indonesia menekankan aspek sumber daya manusia dalam menyusun blue print perbankan syariah.Persoalan SDM bank syariah menjadi fokus utama kajian BI karena langkah itu perlu untuk meningkatkan kualitas bankir syariah.
BI bahkan akan mendukung dan memberikan subsidi dalam pelatihan dan pendidikan bankir syariah untuk mengatasi minimnya tenaga profesional. Di Malaysia,minimnya tenaga profesional perbankan syariah juga menjadi salah satu masalah yang mendesak untuk diselesaikan. Pemerintahan Malaysia kini mendorong dilakukannya pendidikan dan pengembangan kualitas SDM keuangan dan perbankan syariah.
Australia yang sedang berusaha menjadikan Sydney sebagai pusat keuangan yang diharapkan dapat menarik dana dari investor muslim yang berada di Asia yakin, perbankan syariah akan menjadi industri yang mampu menjaring banyak dana dan membuka peluang kerja sangat besar. Di Inggris, kebutuhan tenaga profesional itu direspons dengan dibukanya program studi baru mengenai keuangan Islam.
Respons ini merupakan pengakuan bahwa industri keuangan syariah berkembang pesat sehingga membuka peluang kerja yang besar. Lembaga keuangan syariah membutuhkan sumber daya yang mempunyai integritas dan kemampuan profesional, penguasaan tentang product knowledge, dan kompetensi untuk berkarier di bank syariah.Mereka harus bisa memahami sistem perbankan syariah yang belum begitu familier di masyarakat, menguasai keterampilan dasar ilmu syariah,teknik komunikasi syariah, serta menghayati service excellentyang berjiwa islami.
Salah satu lembaga pendidikan dan perbankan yang saat ini berusaha menyediakan tenaga profesional yang memenuhi syarat untuk berkarier di bank syariah adalah Universitas Az Zahra yang telah membuat nota kesepakatan dengan Bank Sinarmas Syariah dan STIAMI.Kerja sama tersebut merupakan upaya sinergi kerja sama yang saling membangun dan menguntungkan dalam kontribusi aktif menyiapkan calon-calon tenaga SDM perbankan syariah berkompeten dan siap kerja.
Wakil Rektor Universitas Az Zahra Ilyas Indra mengatakan, kesepakatan tersebut akan menciptakan link and match antara penyelenggara pendidikan khususnya program studi keuangan dan perbankan syariah dengan dunia perbankan. Mahasiswa bisa langsung ditempatkan bekerja di Bank Sinarmas Syariah dan mereka yang memiliki kesulitan biaya bisa diberikan pinjaman lunak.
Sebelumnya, Universitas Az Zahra sudah bekerja sama dengan BRI Syariah,Dewan Syariah Nasional, PKES, dan lembaga keuangan syariah lainnya. Pembantu Direktur I Diploma dan Profesi STIAMI Dinda Aulia Rahman mengatakan, kerja sama itu akan menjadi model atas kontribusi dunia pendidikan tinggi terhadap dukungan pertumbuhan daya saing sektor industri keuangan syariah dan memperkuat portofolio STIAMI sebagai penyedia tenaga profesional di bidang keuangan syariah.
”Memang bukan hal mudah dan membutuhkan proses. Namun bila kerangka serta langkah kerja sama ini ditempatkan secara profesional dengan penuh amanah, insyaallah akan banyak membantu dalam mengatasi sisi kelemahan persoalan ketenagakerjaan di Indonesia,”kata Dinda.
Kurangnya tenaga profesional tidak mustahil akan menghambat pertumbuhan lembaga keuangan syariah dan mengakibatkan kekayaan khasanah keuangan syariah belum tergali dan dioptimalkan. Bisnis lembaga keuangan syariah masih lebih banyak berdasar jualbeli. (widowati/dari - berbagai sumber).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar