Senin, 15 November 2010

Tantangan Menuju Pasar Tunggal ASEAN

Era perdagangan bebas sudah ada di depan mata. Namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi, khususnya negara-negara di Asia, pasalnya, saat ini negara-negara di kawasan ini masih menjadi tujuan investasi jangkah pendek dari investor asing saat ini.

Padahal, ada kekuatan yang sangat besar dari kawasan Asia, khususnya wilayah ASEAN yang mempunyai beberapa kesamaan. Seperti di kelompok barang yang masuk dalam prioritas integrasi, hampir sebagian negara mempunyai kesamaan komoditas unggulan, seperti di sektor pertanian, perikanan, produk karet, kayu, dan elektronik.
Untuk itulah, ASEAN pun membentuk Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015 mendatang, kendati banyak tantangan yang harus segera dituntaskan. Antaral lain, dari berbagai kesamaan tersebut, membuat rendah pangsa perdagangan intra-ASEAN yang hanya berkisar antara 20-25 % dari total perdagangan di ASEAN.
“Di Indonesia pangsa Indonesia relatif rendah yakni 26 % dibandingkan Singapura 31,8 % dan Malaysia 29 %,” ungkap Deputi Direktorat Internasional Bank Indonesia (BI) Detty H Agustiono saat berbicara dalam sosialisasi MEA 2015, di Gedung Bank Indonesia, Batam, Jumat (12/11).
Selain itu, lanjut Detty, tingginya hambatan nontarif juga menjadi halangan. Di antara negara-negara ASEAN, Indonesia menjadi negara yang paling banyak memiliki hambatan nontarif. Ini tercermin dari banyaknya pihak yang terlibat dalam kegiatan ekspor impor, terutama yang terkait dengan perizinan, di mana lebih dari 22 instansi pemerintah, dengan lebih dari 40 dokumen yang harus dikeluarkan.
Kemudian, tantangan lainnya, penyesuaian agenda nasional dengan komitmen MEA. Lalu adanya peningkatan kesadaran pemangku kepentingan (stakeholders) atas jadwal strategis menuju MEA 2015. “Selama ini tahapan tentang komitmen MEA dan tahapan implementasi yang akan dilakukan Indonesia belum menyeluruh. Oleh karena itu, peningkatan pemahaman akan memungkinkan proses persiapan tidak hanya dilakukan oleh otoritas terkait, tetapi juga bersama-sama dengan segenap pemangku kepentingan,” tutupnya.
Terbentuk Peluang
Detty juga mengungkapkan, terbentuknya MEA di 2015 mendatang menjanjikan peluang potensial bagi Indonesia, bila dilihat dari sisi perdagangannya. “Ini karena ASEAN yang terintegrasi membuat pasar produk Indonesia menjadi lebih besar,” kata Detty.
Pada 2006 saja, tercatat jumlah penduduk ASEAN mencapai 567,6 juta orang dengan nilai total produk domestik bruto (PDB) sebesar USD1,1 triliun (tumbuh 7,7 %). Prospek pertumbuhannya sendiri terus menjadikan ASEAN sebagai peluang pasar maupun basis produksi potensial.
“Secara sektoral, salah satu sektor potensial adalah sektor elektronik, termasuk di dalamnya industri teknologi informasi dan komunikasi. Sektor elektronik menjadi sektor yang punya tingkat integritas tinggi di ASEAN,” jelasnya.
Hal ini, menurutnya, telah menjadi ASEAN sebagai basis produksi untuk produk elektronik. Untuk Indonesia, dari delapan sektor prioritas di luar jasa-jasa, Indonesia memiliki keunggulan di lima sektor yaitu pertanian, produk kayu, perikanan, produk karet, dan elektronik. “Pemetaan sektor unggulan, lanjutnya, perlu dilakukan agar dapat dijadikan panduan dalam upaya peningkatan daya saing Indonesia,” tukasnya.
Sementara dari sisi penanaman modal langsung (investasi), berbagai kerja sama regional untuk meningkatkan infrastruktur (pipa gas dan teknologi informasi) membuka peluang bagi perbaikan iklim investasi Indonesia, terutama dalam melancarkan program perbaikan infrastruktur domestik.
Sektor Perbankan
Mengingat integrasi pasar ASEAN 2015 tinggal beberapa tahun lagi, maka mereka yang tidak siap memasukinya kemungkinan akan menjadi penonton belaka. Persiapan memasuki pasar bersama ASEAN itu dilakukan di berbagai sektor, termasuk sektor perbankan. Bahkan Asosiasi Perbankan ASEAN dalam pertemuannya di Bali memfokuskan pembahasan kepada kesiapan sektor perbankan dalam pasar tunggal ASEAN.
“Konferensi Perbankan ASEAN ke-18 dan Pertemuan Dewan Perbankan ASEAN ke-40 fokus kepada upaya mencari pemecahan dan kerangka kerja untuk meningkatkan dan mempromosikan kerja sama keuangan ASEAN terkait dengan pasar tunggal ASEAN,” kata Ketua Asosiasi Perbankan ASEAN (ASEAN Banker`s Association/ABA) Pham Huy Hung.
Konferensi Perbankan ASEAN merupakan pertemuan untuk berbagi pengalaman berharga sehingga ditemukan pemecahan terhadap masalah-masalah praktis untuk masa depan industri perbankan di wilayah itu. Konferensi Perbankan ASEAN di Bali pada 10 November 2010 dihadiri 250 peserta, yang 160 peserta merupakan bankir dari luar Indonesia.
Sementara menurut Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono, topik kesiapan perbankan wilayah regional menghadapi pasar tunggal ASEAN 2015 sangat kontekstual dengan perkembangan perekonomian dan industri perbankan dewasa ini. “Terintegrasinya pasar wilayah ASEAN merupakan tuntutan sekaligus titik tolak bagi perekonomian ASEAN supaya menjadi sebuah kekuatan ekonomi baru di pentas dunia,” katanya.
Menurut dia, untuk mewujudkannya, kontribusi dunia perbankan mutlak diperlukan sehingga mampu mengakselerasi proses-proses ekonomi yang akan makin berkembang ketika pasar tunggal ASEAN benar-benar terwujud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar