Selasa, 16 November 2010

Samurai bond jadi agenda rutin

Oleh: Agust Supriadi
JAKARTA : Pemerintah akan menjadikan pasar Jepang sebagai sumber pembiayaan regular dengan mengaggendakan penerbitan obligasi berdenominasi yen (samurai bond) secara rutin.

Rahmat Waluyanto, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, menuturkan untuk samurai bond yang diterbitkan pemerintah dalam dua tahun terakhir ini masuk dalam skema MASF (Market Acces Support Facility) dalam kerangka penjaminan pinjaman siaga . Fasilitas tersebut sekaligus untuk meningkatkan daya tarik obligasi RI di pasar jepang.

“Jadi kalau pemerintah perlu pembiayaan tapi market-nya [di Jepang] tidak bisa menyerap, bisa menarik pinjaman dari JBIC [Japan Bank for International Cooperation] itu,” jelas dia kepada Bisnis, sore ini.


Seperti diketahui fasilitas DDO yang disediakan JBIC bagi Indonesia untuk kurun waktu 2009-2010 sebesar US$1,5 miliar. Penjaminan tersebut sudah digunakan sebesar US$350 juta melalui penerbitan perdana Samurai bond pada tahun lalu dan US$723,3 juta [setara dengan 60 miliar Yen] pada 12 November lalu.

Menurutnya, sejalan dengan keinginan pemerintah melakukan diversifikasi pasar ke Jepang, maka samurai bond rencananya akan secara regular diterbitkan, seperti halnya global bond dan sukuk global. Untuk itu, penjaminan dari JBIC masih diperlukan mengingat peringkat kredit Indonesia yang belum investment grade.

“Kan baru satu rating agency di Jepang yang menaikan peringkat kita, sedangkan yang satunya lagi belum. Karenanya diperlukan fasilitas penjaminan dari JBIC agar meningkatkan daya tarik. Tapi kami belum tahu berapa porsi samurai bond nanti karena tergantung kondisi pasar. Kami akan tetap memprioritaskan surat utang yang rupiah,” tuturnya.


Rahmat mengatakan Indonesia merupakan Negara pertama yang menerbitkan samurai bond dengan skema pinjaman siaga pascakrisis. Setelah Indonesia, sejumlah negara turut menerbitkan obligasi serupa pada tahun yang sama, a.l. Vietnam, Kolombia, Filipina, dan Meksiko.

Pernyataan Rahmat tersebut merupakan penjelasan dari pernyataan Menteri Keuangan Agus D. W. Martowardojo di Jepang menyangkut persetujuan prinsip dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC) untuk meneruskan fasilitasi jaminan bagi penerbitan Samurai Bond ke depannya.

Dengan demikian, lanjut Rahmat, ada tiga denominasi mata uang yang menjadi basis penerbitan obligasi negara ke depannya, yakni Rupiah, dollar AS, dan Yen. Untuk obligasi negara berdenominasi dollar AS, seperti global bond dan sukuk global, pasarnya akan dikembangkan hingga ke Eropa dan Asia. “Karena (pasar-pasar) itu yang likuid.” (htr)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar