JAKARTA: Rupiah sepekan ini berpotensi melanjutkan fluktuasinya dengan kecenderungan melemah setelah dalam 4 hari terakhir terkoreksi.
Depresiasi rupiah ini seiring dengan kekhawatiran terhadap kontrol arus modal oleh bank sentral di Asia serta kekhawatiran krisis utang di Irlandia yang akan menyebar luas ke kawasan Uni Eropa.
“Pasar pada sepekan ini akan cukup fluktuatif karena dua isu sentral, yakni kontrol arus modal oleh bank sentral di Asia dan krisis di Irlandia,” kata Head of Treasury OCBC NISP Suriyanto Chang kepada Bisnis, hari ini.
Dia memprediksi rupiah masih berfluktuatif dengan kecenderungan melemah dan mendekati level 9.000, yakni di rentang 8.920 - 8.980 per dolar AS.
Pada perdagangan Selasa, rupiah kembali terdepresiasi untuk hari keempat seiring dengan koreksi di bursa saham regional yang dipicu kecemasan akan situasi utang di Eropa.
Head of Research Bank Negara Indonesia Nurul Eti Nurbaeti pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia masih variatif di tengah beragamnya kabar di pasar, baik domestik maupun regional. Di samping itu, indikasi investor cenderung memilih untuk melakukan konsolidasi dan fluktuatifnya pergerakan IHSG. Hal ini membuat rupiah cenderung konsolidasi hingga bergerak melemah.
“Rupiah bergerak konsolidasi. Tekanan atas rupiah berlanjut seiring dengan pengaruh melambatnya pertumbuhan ekonomi China,” tutur Nurul dalam riset hariannya.
Rupiah pada penutupan perdagangan Selasa kemarin terdepresiasi 22 poin atau 0,2% menjadi Rp8.958 per dolar AS, ungkap data Bank Indonesia.
IHSG ditutup naik 0,44% menjadi 3.674,03 setelah sesaat sebelumnya masih terpangkas 0,25% menjadi 3.647,27. Mayoritas indeks saham di bursa regional juga terkoreksi, seperti indeks Shanghai minus 3,98%, Hang Seng terpangkas 1,39%, Nikkei minus 0,31% dan Straits Times minus 0,77%.
Mata uang tunggal kawasan Eropa terus tertekan di balik kecemasan mengenai situasi utang Irlandia. Negara itu harus menanggung yield tinggi atas surat utangnya. Pasar berekspektasi kemungkinan negara itu di-bail out oleh Uni Eropa semakin besar.
Analis Harumdana Berjangka Nanang Wahyudin mengatakan masalah Irlandia belum tuntas, kondisi Portugal juga semakin mencemaskan. Hingga kini, Irlandia mengatakan belum mengajukan pinjaman ke Uni Eropa. Para pejabat Eropa khawatir memburuknya kondisi Irlandia bila tidak segera ditanggulangi bisa menular ke Portugal.(er)
Depresiasi rupiah ini seiring dengan kekhawatiran terhadap kontrol arus modal oleh bank sentral di Asia serta kekhawatiran krisis utang di Irlandia yang akan menyebar luas ke kawasan Uni Eropa.
“Pasar pada sepekan ini akan cukup fluktuatif karena dua isu sentral, yakni kontrol arus modal oleh bank sentral di Asia dan krisis di Irlandia,” kata Head of Treasury OCBC NISP Suriyanto Chang kepada Bisnis, hari ini.
Dia memprediksi rupiah masih berfluktuatif dengan kecenderungan melemah dan mendekati level 9.000, yakni di rentang 8.920 - 8.980 per dolar AS.
Pada perdagangan Selasa, rupiah kembali terdepresiasi untuk hari keempat seiring dengan koreksi di bursa saham regional yang dipicu kecemasan akan situasi utang di Eropa.
Head of Research Bank Negara Indonesia Nurul Eti Nurbaeti pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia masih variatif di tengah beragamnya kabar di pasar, baik domestik maupun regional. Di samping itu, indikasi investor cenderung memilih untuk melakukan konsolidasi dan fluktuatifnya pergerakan IHSG. Hal ini membuat rupiah cenderung konsolidasi hingga bergerak melemah.
“Rupiah bergerak konsolidasi. Tekanan atas rupiah berlanjut seiring dengan pengaruh melambatnya pertumbuhan ekonomi China,” tutur Nurul dalam riset hariannya.
Rupiah pada penutupan perdagangan Selasa kemarin terdepresiasi 22 poin atau 0,2% menjadi Rp8.958 per dolar AS, ungkap data Bank Indonesia.
IHSG ditutup naik 0,44% menjadi 3.674,03 setelah sesaat sebelumnya masih terpangkas 0,25% menjadi 3.647,27. Mayoritas indeks saham di bursa regional juga terkoreksi, seperti indeks Shanghai minus 3,98%, Hang Seng terpangkas 1,39%, Nikkei minus 0,31% dan Straits Times minus 0,77%.
Mata uang tunggal kawasan Eropa terus tertekan di balik kecemasan mengenai situasi utang Irlandia. Negara itu harus menanggung yield tinggi atas surat utangnya. Pasar berekspektasi kemungkinan negara itu di-bail out oleh Uni Eropa semakin besar.
Analis Harumdana Berjangka Nanang Wahyudin mengatakan masalah Irlandia belum tuntas, kondisi Portugal juga semakin mencemaskan. Hingga kini, Irlandia mengatakan belum mengajukan pinjaman ke Uni Eropa. Para pejabat Eropa khawatir memburuknya kondisi Irlandia bila tidak segera ditanggulangi bisa menular ke Portugal.(er)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar