Antisipasi Krisis
JAKARTA – Kebijakan Quantitative Easing (QE) tahap kedua yang diluncurkan pemerintah Amerika Serikat (AS), pekan lalu, menuai kritikan dari berbagai negara. Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble menilai kebijakan menyuntikkan dana 600 miliar dollar AS untuk memacu pertumbuhan ekonomi negara adikuasa itu akan menurunkan kredibilitas AS dan menciptakan kondisi perekonomian global kian tak menentu.
“Ini akan mempersulit mencapai keseimbangan antara negaranegara industri maju dan emerging country. Kebijakan ini bahkan akan menjatuhkan kredibilitas kebijakan finansial AS,” ungkap Schaeuble, belum lama ini. Kamis pekan lalu, bank sentral AS (The Fed) memutuskan untuk melakukan QE lanjutan dengan membeli obligasi pemerintah senilai 600 miliar dollar AS selama delapan bulan ke depan untuk memacu pertumbuhan ekonomi AS.
The Fed menggam barkan kondisi ekonomi AS saat ini berjalan lambat dan sektor ketenagakerjaan masih muram, sementara tekanan inflasi cenderung masih lemah. Oleh karena itu, bank sentral AS akan melakukan pembelian aset (longer term treasury bonds) senilai 75 miliar dollar AS per bulan dan peninjauan berkala secara reguler untuk mengetahui seberapa jauh kebutuhan agar dapat disesuaikan dengan laju perkembangan pertumbuhan ekonomi.
Selain mengritik kebijakan AS, Schaeuble juga menampik tudingan miring bahwa negaranya berhasil membukukan surplus perdagangan. Schaeuble menegaskan keberhasilan ekspor Jerman bukan disebabkan oleh pelemahan nilai tukar mata uangnya, melainkan karena meningkatnya daya saing perusahaan-perusahaan di Negeri Kanselir itu Schaeuble juga mengritik kebijakan AS terkait valuta asing (valas).
“Ini tentunya tak baik ketika Amerika menuduh China memanipulasi nilai tukar mata uangnya dan kemudian memperlemah nilai tukar dollar AS dengan membuka seluas-luasnya aliran modal ke luar negeri,” ujar dia. China pun tidak tinggal diam. Di Beijing, Senin (8/11), Wakil Menteri Keuangan China Zhu Guangyao mengatakan penyuntikan dana ratusan miliar dollar AS ke sistem perbankan AS itu akan mengejutkan pasar keuangan global dan menyebabkan banjirnya aliran modal ke emerging markets.
Saat berbicara kepada wartawan menjelang pertemuan G20 dan APEC pekan ini, Zhu menambahkan bahwa China berencana menggelar diskusi terbuka dengan AS terkait kebijakan pencetakan uang baru Negara Paman Sam itu. Menurut Zhu, AS harus menyadari peran dan tanggung jawabnya pada perekonomian global.
Kelompok negara 20 atau G20 yang akan bertemu di Seoul pekan ini digambarkan akan menjadi G19 plus 1 karena negara-negara emerging markets dan negara kaya bakal menuduh AS telah memecah kesatuan sikap. Pejabat-pejabat dari Jerman, Brasil, China, dan Afrika Selatan telah menunjukkan kekhawatiran bahwa pencetakan uang oleh bank sentral AS itu berpo tensi melemahkan dollar AS, melambungkan harga komoditas, dan menciptakan gelombang dana pemodal yang tak ter kontrol ke emerging markets.
Secara diplomatis, Schaeuble menyebut kebijakan AS itu tidak memberikan petunjuk atau clueless.
Rugikan Domestik
Pengamat ekonomi Econit, Hen dri Saparini, mengatakan QE berdampak negatif dan merugikan ekonomi Indonesia. Pasalnya, Indonesia tidak memiliki sistem yang dapat menahan supaya capital inflow (dana asing) tidak mengalir terlalu deras. ”Sektor riil tidak jalan karena suku bunganya terlalu tinggi,” Kata Hendri, Senin. Akibatnya, lanjut dia, dana asing yang masuk ke Indonesia hanya berputar-putar tanpa bisa disalurkan ke sektor riil karena bunganya terlalu tinggi.
Menurut dia, perbedaan suku bunga Indonesia dengan AS cukup jauh. ”Suku bunga di Amerika 0,25 persen, sedangkan di Indonesia sebesar 6,5 persen dengan bunga obligasi 7,3 persen. Ada spread yang jauh sehingga investor lebih memilih Indonesia yang memiliki yield yang tinggi,” kata Hendri.
mad/din/ind/Rtr/WP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar