JAKARTA: ICMI menilai potensi ekonomi Indonesia di berbagai daerah belum tergali dengan maksimal seperti tecermin dari pertumbuhan ekonomi yang hanya tampak di kota-kota besar atau dekat dengan pusat pemerintahan.
Ginanjar Kartasasmita, Ketua Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), menuturkan masalah utama bangsa Indonesia saat ini adalah bagaimana membangun dan menggali sumber daya ekonomi yang cukup besar yang terfokus kepada penciptaan pertumbuhan ekonomi yang bukan hanya cepat, tetapi juga inklusif, berkeadilan, dan berkesinambungan.
“Pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa melampaui target, yakni 5,7%. Namun demikian, belum merata. Percepatan pertumbuhan itu hanya terlihat di kota-kota yang dekat dengan pusat pemerintahan, padahal potensi yang terbesar justru ada di daerah yang bisa mencapai 70%,” ujarnya dalam Seminar Nasional ICMI, hari ini.
Ginanjar mengatakan beberapa hal yang harus diperhatikan a.l. keadilan dan kemandirian ekonomi. “Artinya kita harus menjadi tuan rumah di negara sendiri. Bukan terlepas dari ketergantungan pihak lain, bukan juga berdikari kaya dulu yang mengisolasi diri. Jadi kalau ada inputnya dari kerja sama dengan pihak luar baik, tapi kalau tidak pun harus bisa survive,” tuturnya.
Dia melanjutkan ketahanan ekonomi dari krisis dan pengaruh situasi global juga perlu diperhatikan. Menurut dia, dinamika perekonomian global bisa menjadi penderitaan bagi perekonomian Indonesia, tetapi bisa juga menjadi peluang untuk bisa tumbuh lebih abik.
“Globalisasi membuka kesempatan akses modal dan juga memberi sumbangan teknologi dan informasi sehingga pasar menjadi lebih besar. Namun, tantangan global bisa juga mengakibatkan penderitaan. Intinya globalisasi harus menghasilkan win-win solituion,” katanya.
Namun, Ginanjar menekankan penguatan pasar dalam negeri harus diprioritaskan dengan menciptakan iklim investasi yang bersahabat.
Rohmad Hadiwijoyo, CEO RMI Group, mengatakan pengusaha nasional dan pengusaha lokal perlu mengambil peran lebih banyak untuk menguasai pasar yang sebagian besar berada di daerah.
Dia mengharapkan kondisi itu dapat memperluas penciptaan lapangan kerja melalui berbagai investasi baru terutama di bidang energi terbarukan. (luz)
Ginanjar Kartasasmita, Ketua Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), menuturkan masalah utama bangsa Indonesia saat ini adalah bagaimana membangun dan menggali sumber daya ekonomi yang cukup besar yang terfokus kepada penciptaan pertumbuhan ekonomi yang bukan hanya cepat, tetapi juga inklusif, berkeadilan, dan berkesinambungan.
“Pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa melampaui target, yakni 5,7%. Namun demikian, belum merata. Percepatan pertumbuhan itu hanya terlihat di kota-kota yang dekat dengan pusat pemerintahan, padahal potensi yang terbesar justru ada di daerah yang bisa mencapai 70%,” ujarnya dalam Seminar Nasional ICMI, hari ini.
Ginanjar mengatakan beberapa hal yang harus diperhatikan a.l. keadilan dan kemandirian ekonomi. “Artinya kita harus menjadi tuan rumah di negara sendiri. Bukan terlepas dari ketergantungan pihak lain, bukan juga berdikari kaya dulu yang mengisolasi diri. Jadi kalau ada inputnya dari kerja sama dengan pihak luar baik, tapi kalau tidak pun harus bisa survive,” tuturnya.
Dia melanjutkan ketahanan ekonomi dari krisis dan pengaruh situasi global juga perlu diperhatikan. Menurut dia, dinamika perekonomian global bisa menjadi penderitaan bagi perekonomian Indonesia, tetapi bisa juga menjadi peluang untuk bisa tumbuh lebih abik.
“Globalisasi membuka kesempatan akses modal dan juga memberi sumbangan teknologi dan informasi sehingga pasar menjadi lebih besar. Namun, tantangan global bisa juga mengakibatkan penderitaan. Intinya globalisasi harus menghasilkan win-win solituion,” katanya.
Namun, Ginanjar menekankan penguatan pasar dalam negeri harus diprioritaskan dengan menciptakan iklim investasi yang bersahabat.
Rohmad Hadiwijoyo, CEO RMI Group, mengatakan pengusaha nasional dan pengusaha lokal perlu mengambil peran lebih banyak untuk menguasai pasar yang sebagian besar berada di daerah.
Dia mengharapkan kondisi itu dapat memperluas penciptaan lapangan kerja melalui berbagai investasi baru terutama di bidang energi terbarukan. (luz)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar