Salah satu indikatornya,penyerapan tenaga kerja yang lebih besar. Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo mengklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah mampu mendongkrak penyerapan tenaga kerja.Elastisitasnya 1% pertumbuhan mampu menyerap 400.000 tenaga kerja. Elastisitas tersebut sudah jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dia optimistis target penyerapan tenaga kerja akan terealisasi.
”Dalam pembicaraan sebelumnya, elastisitas pertumbuhan ekonomi nasional itu 400.000 tenaga kerja baru. Dan perkembangan terakhir memang menunjukkan sudah baik,”kata Lukita di Jakarta kemarin. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010–2014,salah satu tugas berat pemerintah adalah menekan angka kemiskinan hingga 8–10%.
Hal ini dibarengi dengan upaya mengurangi pengangguran dan menciptakan 10,7 juta lapangan pekerjaan dalam waktu empat tahun ke depan.Angka tersebut dinilai sejalan dengan target capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 7–7,5% pada 2014. Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya menilai, pertumbuhan ekonomi yang dicapai tidak berpengaruh signifikan terhadap meningkatnya penyerapan tenaga kerja.
”Pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah setiap tahun tidak secara spontan dapat mendongkrak penyerapan tenaga kerja,”kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Slemat Sutomo. Deputi Bidang Kemiskinan,Tenaga Kerja, dan UKM Bappenas CeppieSumanilagamenyatakan,penurunan angka kemiskinan yang tidak terlalu signifikan belakangan ini diakibatkan tren pertumbuhan ekonomi nasional cenderung melambat.
Sejak 2004 angka kemiskinan terus menurun namun tren penurunannya terbilang melambat. Menurut Ceppie, kendala utama pemerintah dalam penurunan angka kemiskinan adalah penyebaran penduduk miskin yang tidak merata, di mana 57,8% penduduk miskin ada di Jawa dan Bali. (wisnoe moerti)
”Dalam pembicaraan sebelumnya, elastisitas pertumbuhan ekonomi nasional itu 400.000 tenaga kerja baru. Dan perkembangan terakhir memang menunjukkan sudah baik,”kata Lukita di Jakarta kemarin. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010–2014,salah satu tugas berat pemerintah adalah menekan angka kemiskinan hingga 8–10%.
Hal ini dibarengi dengan upaya mengurangi pengangguran dan menciptakan 10,7 juta lapangan pekerjaan dalam waktu empat tahun ke depan.Angka tersebut dinilai sejalan dengan target capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 7–7,5% pada 2014. Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya menilai, pertumbuhan ekonomi yang dicapai tidak berpengaruh signifikan terhadap meningkatnya penyerapan tenaga kerja.
”Pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah setiap tahun tidak secara spontan dapat mendongkrak penyerapan tenaga kerja,”kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Slemat Sutomo. Deputi Bidang Kemiskinan,Tenaga Kerja, dan UKM Bappenas CeppieSumanilagamenyatakan,penurunan angka kemiskinan yang tidak terlalu signifikan belakangan ini diakibatkan tren pertumbuhan ekonomi nasional cenderung melambat.
Sejak 2004 angka kemiskinan terus menurun namun tren penurunannya terbilang melambat. Menurut Ceppie, kendala utama pemerintah dalam penurunan angka kemiskinan adalah penyebaran penduduk miskin yang tidak merata, di mana 57,8% penduduk miskin ada di Jawa dan Bali. (wisnoe moerti)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar