Selasa, 09 November 2010

Pertumbuhan Ekonomi di Bawah Ekspektasi

JAKARTA(SINDO) – Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/ 2010 sebesar 5,8% (year on year/ yoy) diakui masih di bawah ekspektasi.Meski mengalami pelambatan,ekonomi Indonesia tetap dinilai kuat.

“Memang ini di bawah ekspektasi berbagai pihak, termasuk saya sendiri,” ujar Direktur Perencanaan Ekonomi Makro Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Bambang Prijambodo di Jakarta kemarin. Bambang mengungkapkan, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2010 yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama ini merupakan gambaran ekonomi saat ini. Laju pertumbuhan ekonomi agak melambat, sedikit dipengaruhi laju pertumbuhan pada triwulan sebelumnya. “Bukan menurun, hanya sedikit mengalami pelambatan yang kemungkinan akan berpengaruh pada pertumbuhan triwulan selanjutnya,” katanya.

Meski melambat, Bambang tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada jalur yang benar. Salah satu indikatornya unsur dasar dan pendukung dalam pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat.Angka konsumsi masyarakat pada level 5,2%, pertumbuhan investasi pada level 8,9%, serta kontribusi ekspor-impor Indonesia yang masih cukup baik merupakan unsur penting yang mampu menjaga ekonomi dalam negeri.“Angka 5,8% pada kuartal III/2010 is not badatau tidak terlalu buruk.Konsumsi masyarakat tetap tumbuh, investasi membaik, surplus perdagangan juga mendukung,” ungkapnya. Namun, imbuh dia, yang masih perlu menjadi perhatian adalah melemahnya atau melambatnya beberapa sektor seperti sektor pertanian, industri, dan perbankan.

Pada sektor perbankan,kredit perbankan mengalami perlambatan dari sebelumnya 20,4% menjadi 19,5%. Sementara dari sisi produktivitas pertanian yang hanya tumbuh 1,8% secara yoy juga harus mendapat porsi perhatian cukup. Terlebih,saat ini pergantian musim memengaruhi tingkat produktivitas sektor pertanian.“Sementara untuk sektor industri perlu lebih ditingkatkan, terutama menyangkut keseriusan dalam meningkatkan daya saing,”katanya. Bambang juga menyinggung lambannya penyerapan anggaran belanja pemerintah.Menurut dia, penyerapan belanja yang lamban sedikit memengaruhi pertumbuhan ekonomi sebab tidak maksimalnya belanja pemerintah yang memiliki efek pengganda (multiplier effect) berbanding lurus dengan geliat dan aktivitas pertumbuhan ekonomi.

“Pengaruhnya dari sisi konsumsi. Meski ada pengaruhnya, memang tidak terlalu besar,”ucapnya. Lebih lanjut Bambang menuturkan, selain dipengaruhi faktor dalam negeri, melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga juga dipengaruhi faktor eksternal yakni ekonomi global. Amerika Serikat yang masih dalam tahap pemulihan hanya mampu tumbuh 3%.“Di tingkat global, hampir semua negara mengalami perlambatan. Hanya saja, di Asia, termasuk kita masih sedikit lebih baik dibanding di Amerika yang ekspektasinya juga jauh berkurang,” tandasnya.

Sementara itu, ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menilai pemerintah keliru dalam mengambil kebijakan penghematan belanja kementerian/ lembaga (K/L) di tengah rendahnya penyerapan anggaran. Semangat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait penghematan anggaran belanja berlawanan dengan keinginan pemerintah untuk memaksimalkan penyerapan anggaran. Instruksi menghemat anggaran tersebut dikhawatirkanakanmembuatkuasapengguna anggaran (KPA) memilih santai dalam membelanjakan anggarannya, termasuk dalam pengerjaan proyek-proyek infrastruktur pemerintah yang berdampak pada geliat ekonomi dalam negeri. “Ini masalah serius.

Tapi, yang saya takut, jangan-jangan tim bentukan Presiden yang mengusulkan untuk menghemat belanja kita tidak bisa belanja. Kalau itu yang terjadi,rasanya tim itu bergerak ke arah yang salah. Kalau saya lihat dari semangat menghemat anggaran, jelas berlawanan dengan keinginan untuk membuat belanja lebih kencang,” ujar Purbaya beberapa waktu lalu. Menurut dia, belanja negara memiliki keterkaitan dengan kegiatan di sektor ekonomi lainnya, terutama infrastruktur.Kebijakan fiskal juga akan memengaruhi persepsi pelaku usaha terhadap prospek investasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Ini yang termasuk good fiscal policy, belanja yang betul. Anggaran dibelanjakan dengan betul karena mereka (investor) masuk sini mengharapkan pertumbuhan ekonomi yang cepat.

Kalau mereka melihat pemerintahnya tidak bisa belanja, seluruh program yang muluk-muluk tidak bisa jalan. Mereka akan men-downgrade prospek ekonomi kita.Yang kemudian terjadi larilah mereka,” ungkap Purbaya. Dia meminta pemerintah tidak terbuai dengan makroekonomi Indonesia saat ini yang diprediksi berbagai pihak akan tumbuh cepat. Pemerintah harus kembali fokus pada percepatan belanja negara agar memperbaiki pertumbuhan ekonomi yang melandai pada kuartal III/2010. “Kalau kita keasyikan dengan keberhasilan itu, yang lain akan mengejar.

Lupa belanja lupa bangun infrastruktur, lama-lama orang melihat potensi growth kita tidak bisa di atas 6%. Dalam keadaan sekarang, tanpa langkah terobosan, potencial growth rendah. Long term growthkita hanya sekitar 6%, tidak bisa dipaksa. Jadi ini suatu peringatan, warning, bahwa kita mesti berbuat sesuatu,” tandasnya. (wisnoe moerti)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar