PEKANlalu Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan laporan kinerja perekonomian Indonesia selama kuartal III/2010. Dalam laporan tersebut,ternyata secara riil perekonomian Indonesia tumbuh 5,8% dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya.
Secara kumulatif, yaitu selama Januari hingga September 2010,perekonomian Indonesia dilaporkan tumbuh 5,9% dibandingkan periode yang sama pada 2009. Pertumbuhan ini mirip prediksi pemerintah meskipun agak lebih rendah dibandingkan prediksi saya. Sementara itu, secara nominal perekonomian tumbuh hampir 14%, yaitu dengan tercapainya produk domestik bruto (PDB) berdasarkan harga yang berlaku, yaitu transaksi produksi seluruh perekonomian yang diukur berdasarkan harga yang berlaku saat itu,sebesar Rp1.654,5 triliun. Jumlah tersebut sangat mirip dengan prediksi saya sebelumnya, yaitu Rp1.650 triliun. Dengan kinerja kuartal III itu,sepanjang 2010 sampai September 2010, total PDB nominal mencapai Rp4.727,6 triliun.
Berdasarkan pola musiman tahuntahun sebelumnya bisa diprediksi bahwa PDB nominal kuartal IV/2010 akan mengalami pertumbuhan, tetapi tidak sebesar yang terjadi pada kuartal III. Dengan demikian PDB kuartal IV/2010 akan berada di sekitar Rp1.700 triliun. Ini berarti sepanjang 2010 total PDB akan mencapai sekitar Rp6.400 triliun sebagaimana yang beberapa kali saya tulis di kolom ini pada waktu-waktu lalu. Sebagaimana tulisan saya beberapa minggu lalu, dengan PDB nominal sekitar Rp6.400 triliun dan nilai tukar dolar rata-rata sepanjang tahun sekitar Rp9.000 dan jumlah penduduk tahun 2010 menurut sensus terbaru sebesar 237,5 juta orang, pendapatan per kapita seluruh penduduk Indonesia akan mencapai sekitar USD3.000.
Angka inilah yang belakangan ini santer didengung-dengungkan, termasuk oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa. Dalam tulisan saya sebelumnya, arti penting dari pendapatan USD3.000 per kepala adalah terjadinya akselerasi pertumbuhan perekonomian sebagaimana yang sudah terjadi di Korea Selatan beberapa waktu lalu dan China baru-baru ini. Oleh karena itu, angka tersebut memiliki arti yang sangat penting. Saya sendiri mengaitkannya dengan akan datangnya the next wave dalam perekonomian kita,yaitu munculnya gelombang permintaan baru dari bangkitnya kelas menengah. Persisnya pada kuartal manakah titik USD3.000 tersebut akan terjadi? Barangkali ini merupakan suatu exercise yang juga menarik.
Jika dalam suatu kuartal tersebut tercapai PDB per kapita sebesar USD750,ini berarti dalam kuartal tersebutlah terjadinya titik pendapatan USD3.000 per kapita tersebut atau yang sering saya sebut sebagai the tipping point. Dalam kuartal II lalu, PDB nominal kita mencapai Rp1.572 triliun.Jika angka tersebut dibagi dengan rata-rata nilai tukar Rp9.000 dan kemudian dibagi lagi dengan jumlah penduduk, yaitu 237,5 juta, akan diperoleh angka sekitar USD735.Sementara itu,jika angka PDB nominal kuartal III yang digunakan, akan diperoleh PDB nominal rata-rata sebesar USD774. Angka ini masih cukup konservatif karena nilai tukar dolar AS yang sebenarnya sudah berada di level di bawah Rp9.000 selama beberapa bulan terakhir ini.
Dengan demikian bisa dipastikan bahwa kuartal III/2010 merupakan the tipping point tercapainya PDB per kapita USD3.000 tersebut (yaitu USD774 dikalikan empat untuk mencapai angka tahunannya yang kemudian menghasilkan USD3.096). Pertanyaan berikutnya adalah mengenai akurasi angka PDB itu sendiri. Apakah pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8% tersebut sebagai suatu hal yang sudah meyakinkan kita semua? Paling tidak saya adalah orang yang tidak yakin dengan angka pertumbuhan riil tersebut.Kenapa demikian? Pertama, pertumbuhan sektor industri pengolahan mencapai 4% selama sembilan bulan pertama 2010 dibandingkan dengan sembilan pertama 2009. Angka ini sungguh-sungguh mengganggu pikiran saya.
Apakah produksi sektor industri kita hanya sebesar itu? Kalau kita lihat industri mobil saja (karena ini adalah angka yang paling transparan), penjualan selama sembilan bulan pertama 2010 tersebut mencapai 555.000 unit. Atau tumbuh lebih dari 60%. Motor juga mengalami pertumbuhan produksi yang cukup signifikan. Adapun pangsa kontribusi industri transportasi dalam sektor industri pengolahan pada 2009, yaitu secara total subsektor industri peralatan, mesin dan perlengkapan transportasi,mencapai Rp346,1 triliun, sementara seluruh sektor industri pengolahan (termasuk industri pengolahan migas) mencapai Rp1.480,9 triliun sehingga secara keseluruhan share dari industri transportasi tersebut mencapai sekitar 23%.
Ini berarti seluruh pertumbuhan sektor pengolahan seharusnya mengalami kenaikan sekitar 64% dikalikan 23%, yaitu sekitar 14%.Ini adalah refleksi dari kontribusi pertumbuhan industri mobil tersebut. Sementara itu industri pengolahan lainnya,sebagaimana yang kita bisa lihat dari industri barang konsumsi seperti Unilever, selama sembilan bulan pertama tahun 2010 ini juga tumbuh sekitar 10%.Belum lagi industri ikutannya seperti industri kemasan, industri kertas, industri plastik. Oleh karena itu, pertumbuhan sektor industri manufaktur yang hanya 4% tersebut sungguhsungguh mencengangkan saya. Kedua, yang juga selalu membuat saya bingung,adalah pelaporan PDB subsektor perkebunan.
Dalam tahun 2009 yang lalu kontribusi sektor perkebunan dalam PDB sebesar Rp112 triliun.Sementara itu, dari data ekspor, kita bisa menjumlahkan ekspor dari hasil kebun kita,yaitu minyak sawit,karet, dan rempah-rempah mencapai sekitar USD18,5 miliar. Jika ditambah kopi,cokelat,serta tanaman perkebunan lainnya, jumlahnya mendekati USD20 miliar.Produksi yang diekspor tersebut memang bukan melulu bahan mentah, tetapi mengalami pemrosesan. Minyak sawit misalnya mengalami pemrosesan dari tandan buah segar menjadi CPO.Akan tetapi sebagaimana bisa dilihat lebih dalam industri tersebut, nilai tambah dari kebunnya sendiri (yaitu tandan buah segar) adalah sekitar 80–90% dari nilai tambah yang dihasilkan oleh minyak sawit.
Ini berarti kontribusi PDB dari ekspor hasil perkebunan tersebut sudah jauh melampaui kontribusi perkebunan secara keseluruhan. Belum lagi bahwa hasil perkebunan yang ada juga dikonsumsi di dalam negeri seperti minyak goreng,mentega, ban karet.Oleh karena itu membandingkan kedua data tersebut (yang keduanya dihasilkan oleh BPS) sungguh-sungguh membuat saya geleng-geleng kepala. Ketiga, pertumbuhan sektor air,listrik,dan gas selama sembilan bulan pertama 2010 sebesar kurang dari 1% juga membuat saya bertanya-tanya, ke manakah hasil crash program10.000 megawatt dan sebagainya itu?
Semoga perekonomian Indonesia terus berkembang sebagaimana yang terjadi saat ini sehingga semakin menyejahterakan masyarakat kita.(*)
CYRILLUS HARINOWO HADIWERDOYO
Pengamat Ekonomi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar