JAKARTA: Ekonom mempertanyakan alasan pemerintah mengajukan fasilitas penjaminan Samurai Bond dari JBIC untuk kedua kalinya yang dianggap kurang mempertimbangkan biaya yang ditimbulkan.
Anggito Abimanyu, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, menuturkan keberhasilan pemerintah menyerap pendanaan dari pasar Jepang sebesar 60 miliar yen pada 12 November patut diapresiasi.
Namun, yang dipertanyakan adalah alasan pemerintah untuk kembali memanfaatkan fasilitas penjaminan penerbitan obligasi berdenominasi yen (samurai bond) dari Japan Bank International Corporation (JBIC).
“Pasti ada fee (biaya) penjaminan dari JBIC, bukan lagi commitment fee,” ujarnya kepada Bisnis, hari ini.
Menurut dia, fasilitas penjaminan samurai bond dari JBIC memang diperlukan pemerintah pada 2009-2010 mengingat peringkat kredit Indonesia masih di bawah investment grade.
Namun, pada 13 Juli Japan Credit Rating Agency (JCRA) telah meningkatkan peringkat utang Indonesia dari BB plus menjadi BBB minus dengan outlook stabil.
“Menkeu Agus [Martowardojo] meminta persetujuan JBIC untuk meneruskan fasilitas jaminan bagi samurai bond. Apakah beliau tidak tahu bahwa JCRA sudah meng-upgrade peringkat utang kita menjadi investment grade. Fasilitas penjaminan tersebut ada biayanya dan menjadi beban negara,” katanya.(luz)
Anggito Abimanyu, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, menuturkan keberhasilan pemerintah menyerap pendanaan dari pasar Jepang sebesar 60 miliar yen pada 12 November patut diapresiasi.
Namun, yang dipertanyakan adalah alasan pemerintah untuk kembali memanfaatkan fasilitas penjaminan penerbitan obligasi berdenominasi yen (samurai bond) dari Japan Bank International Corporation (JBIC).
“Pasti ada fee (biaya) penjaminan dari JBIC, bukan lagi commitment fee,” ujarnya kepada Bisnis, hari ini.
Menurut dia, fasilitas penjaminan samurai bond dari JBIC memang diperlukan pemerintah pada 2009-2010 mengingat peringkat kredit Indonesia masih di bawah investment grade.
Namun, pada 13 Juli Japan Credit Rating Agency (JCRA) telah meningkatkan peringkat utang Indonesia dari BB plus menjadi BBB minus dengan outlook stabil.
“Menkeu Agus [Martowardojo] meminta persetujuan JBIC untuk meneruskan fasilitas jaminan bagi samurai bond. Apakah beliau tidak tahu bahwa JCRA sudah meng-upgrade peringkat utang kita menjadi investment grade. Fasilitas penjaminan tersebut ada biayanya dan menjadi beban negara,” katanya.(luz)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar