JAKARTA: Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan pihaknya tengah mendiskusikan konsekuensi akibat lifting minyak yang lebih rendah dan implikasinya dalam bentuk finansial terhadap penerimaan APBN.
Menkeu mengatakan pemerintah akan melakukan pertemuan dan mendiskusikannya untuk mengetahui konsekuensi pencapaian lifting yang lebih rendah.
“Saya belum bisa jawab. Saya mau bikin persiapan pertemuan lagi. Sudah diskusikan rapat menko mulai dari BBM bersubsidi, lifting yang terpengaruh. Saya belum bisa paparkan konsekuensi dari lifting yang lebih rendah 10.000. Implikasinya dalam bentuk finansial,” kata Agus menjawab pertanyaan wartawan di Istana Presiden hari ini.
Seperti diketahui BP Migas mencatat realisasi produksi terjual (lifting) minyak bumi dan kondensat pada Desember 2009-November 2010 hanya mencapai 957.000 barel per hari (bph) lebih rendah dibandingkan dengan target 2010 sebesar 965.000 bph.
Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) R. Priyono mengungkapkan tidak tercapainya target lifting hingga November itu, dipicu oleh berbagai kendala yang menyebabkan kehilangan produksi hingga 19.000 bph.
Dia menjelaskan beberapa kendala yang menghambat pencapaian target lifting tersebut, di antaranya pengaruh cuaca, peralatan, sistem transposrtasi, jaringan listrik, ketidaksiapan penerima, dan berkurangnya permintaan pada hari besar yang menurunkan produksi 9.700 bph.
Selain itu, dia menambahkan akibat kebocoran pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) ke Riau beberapa waktu lalu, menyebabkan berkurangnya produksi PT Chevron Pacific Indonesia (CPI), BOB PT Bumi Siak Pusako-PHE, dan BUMD Sarana Pembangunan Riau sampai 5.000 bph. (luz)
Menkeu mengatakan pemerintah akan melakukan pertemuan dan mendiskusikannya untuk mengetahui konsekuensi pencapaian lifting yang lebih rendah.
“Saya belum bisa jawab. Saya mau bikin persiapan pertemuan lagi. Sudah diskusikan rapat menko mulai dari BBM bersubsidi, lifting yang terpengaruh. Saya belum bisa paparkan konsekuensi dari lifting yang lebih rendah 10.000. Implikasinya dalam bentuk finansial,” kata Agus menjawab pertanyaan wartawan di Istana Presiden hari ini.
Seperti diketahui BP Migas mencatat realisasi produksi terjual (lifting) minyak bumi dan kondensat pada Desember 2009-November 2010 hanya mencapai 957.000 barel per hari (bph) lebih rendah dibandingkan dengan target 2010 sebesar 965.000 bph.
Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) R. Priyono mengungkapkan tidak tercapainya target lifting hingga November itu, dipicu oleh berbagai kendala yang menyebabkan kehilangan produksi hingga 19.000 bph.
Dia menjelaskan beberapa kendala yang menghambat pencapaian target lifting tersebut, di antaranya pengaruh cuaca, peralatan, sistem transposrtasi, jaringan listrik, ketidaksiapan penerima, dan berkurangnya permintaan pada hari besar yang menurunkan produksi 9.700 bph.
Selain itu, dia menambahkan akibat kebocoran pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) ke Riau beberapa waktu lalu, menyebabkan berkurangnya produksi PT Chevron Pacific Indonesia (CPI), BOB PT Bumi Siak Pusako-PHE, dan BUMD Sarana Pembangunan Riau sampai 5.000 bph. (luz)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar