Kebijakan Moneter
BEIJING – Wakil Perdana Menteri China, Li Keqiang, memperingatkan bahwa pelonggaran kebijakan moneter akan berdampak munculnya aksi spekulasi capital inflow dan mendorong kenaikan angka inflasi. Pernyataan tersebut disampaikan Li lewat artikelnya yang dipublikasikan di Xinhua, Senin (15/11). “Beberapa negara besar, dengan tujuan untuk mendorong proses pemulihan, mengadopsi kebijakan moneter yang menciptakan likuiditas yang sangat besar,” ujar Li.
Menurut Li, kebijakan bank sentral AS, The Fed, yang menginjeksi stimulus sebesar 600 miliar dollar AS pada perekonomian AS hanya mendorong fluktuasi di pasar finansial global. “Kebijakan seperti ini juga mendorong kenaikan harga komoditas, terutama energi dan sumber daya alam. Aliran hot money juga sangat memengaruhi emerging market,” tegasnya.
Kebijakan The Fed, kata Li, mendo rong harga barang buatan AS lebih murah karena terdelusi nilai tukar dollar AS. Padahal, katanya, China terus ditekan untuk menyeimbangkan perdagangan gobal sekaligus men jaga pertumbuhan ekonominya. Demi menjaga stabilitas perekonomian, Deputi Gubernur Bank Sentral China, Jin Zhongxia, meminta agar Beijing mengurangi kebergantungan terhadap cadangan mata uang asing.
“Penggunaan yuan yang lebih luas untuk memperkuat cadangan devisa akan memangkas potensi risiko,” ujarnya. Menurut Jin, kebergantungan pada beberapa mata uang berakibat sistem moneter internasional tidak stabil. Maka, penggunaan yuan dalam perdagangan internasional akan mengurangi dampak fluktuasi nilai tukar dengan mitra dagang China China berusaha meningkatkan penggunaan yuan dalam perdagangan internasional menjadi 15 kali lipat dari total nilai perdagangannya, sekitar 2,5 triliun yuan (376,7 miliar dollar AS).
Hingga September, perdagangan dengan menggunakan yuan yang dilakukan perusahaan China dan 43 negara mencapai 197,1 miliar dollar AS.
Dukung QE
Sementara itu, peraih Nobel Ekonomi 2007, Eric Maskin, mendukung kebijakan quantitative easing (QE) yang diputuskan The Fed. “Kebijakan itu dapat melemahkan dollar AS sehingga barang ekspor AS makin murah, sementara impor barang dari China dan Jerman mahal.
Dapat dipahami kalau kedua negara itu tidak suka dengan kebijakan The Fed,” katanya di Paris, kemarin. Selama ini, kata dia, AS terlalu lama menderita defisit perdagangan dengan China. Perdagangan Washington dengan Uni Eropa juga defisit. “Cara untuk menyelesaikan masalah ini adalah melemahkan nilai dollar AS dengan tetap menaruh respek pada yuan,” ungkapnya.
Namun, Maskin mengaku tidak ingin melihat adanya perang valuta asing. “Saya percaya AS akan dapat menjelaskan alasan kebijakan The Fed, tidak hanya bagi publik di dalam negeri, tapi untuk kepentingan seluruh dunia,” katanya.
lha/AFP/Rtr/E-3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar