Hubungan Bilateral
NEW DELHI – Industri outsourcing India dianggap telah membantu pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS). Namun, India membantah telah “mencuri” pekerjaan itu dari warga AS. “India tidak sedang berusaha untuk mengambil pekerjaan dari warga AS. Outsourcing kami justru telah meningkatkan kapasitas dan produktivitas industri AS,” tutur Perdana Menteri India, Manmoham Singh, saat menggelar konferensi bersama dengan Presiden AS, Barack Obama, di New Delhi, Senin (8/11).
Beberapa pihak menuding India telah menjadi back office bagi korporasi AS karena sebagian pekerjaan dilakukan pekerja sewaan dari negara itu. Akibatnya, tingkat pengangguran di AS terus meningkat. Pada bagian lain, Presiden Obama mengatakan hubungan bilateral dengan India sangat dibutuhkan. India dipandang tengah melaju menjadi bangsa maju karena saat ini sudah menjadi emerging market yang besar.
Dalam kunjungan tiga hari di India, Presiden Obama dan PM Singh menyaksikan enam perjanjian kerja sama ekonomi antara AS dan India bernilai lebih dari 10 miliar dollar AS. Kerja sama itu meliputi pertanian, kesehatan, energi, dan lain-lain. Menurut Obama, kerja sama perdagangan itu diharapkan mampu menciptakan 54 ribu lapangan kerja di AS.
Ia juga menyampaikan kebijakan ekspor baru yang didesain untuk memudahkan perusahaan AS melakukan bisnis di negara berpenduduk 1,2 miliar itu. Perjanjian kerja sama itu antara lain pembentukan Pusat Riset dan Pengembangan Energi Ramah Lingkungan senilai 50 juta dollar AS, penguatan Program Kerja Sama Energi AS-India, dan perjanjian penggunaan teknologi AS untuk pengembangan shale gas di India.
Permintaan Domestik Menteri Keuangan AS, Timothy Geithner, menyambut baik pertumbuhan ekonomi India yang berbasis kenaikan permintaan domestik dan kebijakan nilai tukar yang fleksibel. “India bisa menjadi contoh mengenai cara membangun ekonomi yang berkelanjutan,” tuturnya.
Geithner mengatakan India telah menjalankan perannya untuk kembali menyeimbangkan pertumbuhan global guna menghindari surplus perdagangan dan defisit yang masif. Jika tidak dihindari, kondisi tersebut bisa menjadi bahan bakar bagi munculnya krisis finansial. Tanpa menyebut nama China dan kebijakannya yang mengontrol yuan dengan kuat, Geithner mengatakan emerging economies utama akan menentukan pasar nilai tukar sejalan dengan fundamental perekonomian.
“Negara seperti ini akan mendorong permintaan domestik melewati reformasi struktural,” tegasnya. Terkait resesi lanjutan, Geitner menandaskan perekonomian AS telah menjauh dari potensi kemunduran ekonomi. “Semuanya mulai menguat di AS.
Peluang adanya double-dip recession tampaknya lebih rendah dibandingkan tiga, enam, atau 12 bulan lalu,” ungkapnya. Kondisi tersebut ditandai dengan pertumbuhan lapangan kerja AS. Departemen Tenega Kerja melaporkan 151 ribu pekerjaan non pertanian pada Oktober.
lha/AFP/Rtr/E-3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar