Senin, 15 November 2010

Negara besar perlu perhatikan kebijakan moneter

Oleh: Linda T. Silitonga
YOKOHAMA: Pemerintah Indonesia mengharapkan negara besar untuk memperhatikan kebijakan moneter dan fiskalnya yang  bisa berdampak pada negara lain, menyusul masuknya uang besar dalam jumlah besar ke dalam negeri serta negara emerging lainnya yang memiliki risiko sudden reversal.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan Indonesia dan sejumlah negara berkembang lainnya memang dinilai cukup beruntung, karena adanya uang yang masuk ke dalam negeri.

“Untuk Indonesia yang memperoleh masuknya uang [dalam jumlah] besar, kita beri catatan ini ada risiko sudden reversal. [Untuk itu] kami minta negara besar, advance economy, untuk betul memperhatikan kebijakan,” kata Menkeu Agus pada wartawan hari ini, pascamenghadiri agenda KTT Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) yang diselenggarakan pada 13-14 November 2010 di Yokohama.

Sementara itu, jelasnya, saat ini ada sekitar 70 negara yang tdak mengalami kondisi derasnya masuk uang ke negara tersebut, sehingga ekonominya menjadi lebih berat.

Menkeu mengatakan Indonesia akan menyimak dengan seksama masuknya uang yang besar itu, dan akan diarahkan pada pembangun ekonomi, infrastruktur, dan investasi yang lebih meningkat.

Sementara itu, dalam pertemuan menteri keuangan APEC yang diselenggarakan di Kyoto pada 5-6 November 2010, salah satu pembahasannya menyoroti adanya tekanan capital inflow di emerging market.

Dalam pertemuan tingkat menkeu tersebut, Indonesia menekankan pentingnya untuk memperhatikan skala dan volatilitas short-term flow dan potensi terjadinya sudden reversal. Di samping perlu memperhatikan kemampuan sistem keuangan dalam mengarahkan arus modal untuk menghindari asset price bubbles.

Dinlai kebijakan moneter yang longgar, dapat mendorong tingginya short-term capital flow yang berpotensi menimbulkan ketidakstabilan global. (ln)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar