Kamis, 25 November 2010

Mitigasi Bencana dan Iptek Kehutanan

Oleh Dr. Tachrir Fathony Kepala Balitbang Kementrian Kehutanan
Banyak hasil penelitian dan pengembangan teknologi karya anak bangsa yang tak terpublikasi ke masyarakat. Bahkan hasil penemuan itu banyak yang tersimpan digudang. Padahal penemuan teknologi bisa bermanfaat bagi masyarakat luas. Salah satunya adalah teknologi pendukung  penanganan masalah banjir dan tanah longsor yang banyak terjadi di tanah air.

 Belum lama ini, Balai Litbang Kementrian Kehutananan bekerjasama dengan Universitas Lampung memamerkan hasil penemuan teknologi pendukung mitigasi banjir dan tanah longsor. Teknologi merupakan alat yang disertai metode pendukung upaya penanganan banjir dan tanah longsor. Adalah ATHUS  atau alat takar hujan sederhana yang   dipamerkan dalam Gelar Iptek Kehutanan.
Produksi alat ini sebenarnya sederhana dan murah, yaitu  sekitar Rp1 juta. Dibanding alat impor yang harganya mencapai Rp10 juta. Cara kerja alat ini sebenarnya mudah, karena hanya mengukur curah hujan. Sehingga bisa memperkirakan kemungkinan terjadinya banjir. Yang jelas ATHUS, nama alat itu merupakan salah satu dari 100 hasil penelitian terbaik.
Padahal ditengah-tengah minimnya dana penelitian Balitbang Kemenhut mampu menghasilkan karya yang bagus. Bayangkan dengan dana sekitar Rp190M Balitbang Kemenhut “dipaksa” untuk menghasilkan produk teknologi tepat guna dan unggulan. Padahal anggaran itu termasuk membiayai gaji karyawan Litbang dan biaya penelitian.
Selama ini guna memaksimalkanpenelitian dengan keterbatasan dana yang ada, maka Balitbang berupaya menggandeng sejumlah perguruan tinggi dan lembaga swasta guna melakukan riset. Langkah ini ditempuh untuk menghasilkan teknologi tepat guna. Diakui atau tidak, kendala dana memang kenyataan.
Namun bukan hanya itu, bahkan Balitbang Kemenhut juga masih terhambat dengan tenaga peneliti profesional lulusan S2. Sehingga menjadi tantangan ke depan. Juga tak ketinggalan fasilitas dan laboratorium-laboratorium tampaknya belum lengkap.
Yang jelas Balitbang Kemenhut takkan menyerah meski kondisinya belum maksimal. Karena itu guna mencapai hasil optimal, memiliki 9 program, 25 researcher dan 227 kegiatan. Maka jalan yang ditempuh adalah dengan melakukan sinergisitas terhadap tiga lembaga, yakni Litbang, Diklat dan Pengembangan, alias LDP.
Ini sekaligus untuk menjawab tantangan ke depan, karena hasil produk penelitian memerlukan juga pemasaran ke masyarakat. Oleh sebab itu, masyarakat diminta berpartisipasi dengan hasil penelitian. Sehingga ada feedback-nya dan LDP berupaya menggunakannya.
(Disampaikan pada Gelar Iptek Kehutanan di Universita Lampung, akhir pekan lalu)
(cahyo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar