Kamis, 25 November 2010

Kenaikan subsidi BBM diduga karena penyelundupan

Oleh: Agust Supriadi & Dewi Mayestika
JAKARTA : Pemerintah mensinyalir maraknya aksi penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) ke luar negeri menjadi salah satu penyebab membengkaknya subsidi BBM pada tahun ini menjadi 38,37 juta kiloliter.

Menteri Keuangan Agus D. W. Martowardojo mengaku prihatin akan kegagalan pemerintah dalam menjaga penggunaan BBM bersubsidi sesuai dengan kuota yang telah ditetapkan dalam APBNP 2010 sebesar 36,5 juta kl.

Selain karena BBM bersubsidi dinikmati oleh semua kelompok masyarakat, pembengkakan subsidi BBM tersebut juga terjadi karena ditemukannya praktik penyelundupan BBM yang marak terjadi melalui jalur laut.

“Dari laporan Ditjen Bea dan Cukai, 18 November lalu ada kapal melakukan transaksi penjualan BBM sebesar 475.000 liter dengan asing di tengah laut. Padahal jika dibandingkan dengan negara lain, BBM kita kan masih tinggi harganya, tapi kok masih ada yang melakukan penyelundupan. Indonesia diserang dgn segala macam selundupan. Jadi musti kita jaga,” ujar dia pada Seminar Market Oulook 2010, hari ini.

Untuk tahun ini, menurutnya, realisasi volume BBM bersubsidi diperkirakan mencapai 38,37 juta kl, melebihi kuota APBNP. Untungnya, lanjut dia, rata-rata harga minyak dalam negeri (ICP) dan nilai tukar masih lebih rendah dari yang diasumsikan sehingga dari sisi anggaran terdapat penghematan.

“Dari Rp88,9 triliun [alokasi anggaran subsidi], sekarang ini dana yang digunakan baru Rp50 triliunan,  jadi masih ada Rp30 triliun lebih untuk dua bulan. Kalau seandainya dapat dihemat ya kita hemat,” ungkapnya.

Kendati tidak menambah anggaran, Agus Martowardojo menegaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) wajib meminta izin DPR untuk bisa meningkatkan kuota volume BBM bersubsidi.

“Saya juga prihatin kemarin itu, karena ada [volume BBM bersubsidi] 36,5 juta kl ternyata kita tidak bisa jaga kuota karena itu dinikmati semuanya, termasuk kalangan berada.”

Terkait harga minyak, Agus memperkirakan rata-rata ICP sepanjang tahun ini sekitar US$78 per barel, meski harga saat ini sudah melebih asumsi US$80 per barel. Oleh karenanya, kewaspadaan akan harga minyak lebih terfokus pada kecenderungan harga ke depannya.(er)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar