JAKARTA: Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pesimistis dapat merealisasikan pembebasan lahan untuk proyek tol Trans-Jawa sepanjang 878 km pada 2011, menyusul perkembangan pembebasan lahan yang hingga November baru mencapai 38%.
Kepala Sub Pembebasan Lahan Ditjen Bina Marga Kementerian PU Wijaya Seta mengatakan minimnya perkembangan pembebasahn lahan tersebut disebabkan oleh tidak tercapainya kesepakatan negosiasi harga dengan pemilik lahan di daerah.
Selain itu, pembebasan lahan tersebut juga dipicu oleh minimnya modal yang dimiliki oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), sehingga tidak mampu membeli lahan untuk proyek tersebut karena permainan mafia lahan yang mematok harga tanah terlalu tinggi.
“Dari total kebutuhan lahan untuk proyek tol Trans Jawa seluas 4,761 hektare, hingga akhir November 2010 pembebasan lahan baru mencapai 38%. Hal ini karena sulitnya melakukan pembebasan lahan di daerah, selain tidak didukung oleh kemampuan BUJT,” katanya.
Seta menuturkan dampak dari lambatnya pembebabsan lahan tersebut, kebutuhan biaya pembebasan lahan tol trans-Jawa seluas 4.761 hektare membengkak hingga 37% menjadi Rp6.72 triliun. Padahal, estimasi awal yang tertuang dalam kontrak perjanjian peng-usahaan jalan tol yang diteken para Investor sebesar Rp4,55 triliun.
Menurut Seta, kenaikan biaya tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti perubahan nilai jual objek pajak (NJOP), mundurnya jadwal Progres pembebasan lahan selama 2-3 tahun, dan penambahan kebutuhan lahan pada beberapa ruas jalan tol akibat adanya perubahan desain konstruksi.
“Selain membengkaknya biasa pembebasan lahan, kebutuhan lahan jalan tol trans Jawa juga bertambah 491 hektar menjadi 5.252 hektar dari estimasi awal yang hanya seluas 4.761 hektar,” ujarnya.
Dia menuturkan saat ini pemerintah tengah melakukan evaluasi terhadap 24 rusa proyek jalan tol untuk mengetahui tingkat kelayakan proyek tersebut dan kemampuan financial BUJT dalam melanjutkan pembangunan proyek itu.
Selama proses evaluasi tersebut, proses pembebasan lahan harus terus berjalan agar pembangunan jalan tol tersebut bisa selesai sesuai jadwal yang ditentukan, tetapi akibat sejumlah kendala tersebut pengadaan lahan di beberapa ruas tol kini terhenti, seperti ruas Pemalang-Batang. (mfm)
Kepala Sub Pembebasan Lahan Ditjen Bina Marga Kementerian PU Wijaya Seta mengatakan minimnya perkembangan pembebasahn lahan tersebut disebabkan oleh tidak tercapainya kesepakatan negosiasi harga dengan pemilik lahan di daerah.
Selain itu, pembebasan lahan tersebut juga dipicu oleh minimnya modal yang dimiliki oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), sehingga tidak mampu membeli lahan untuk proyek tersebut karena permainan mafia lahan yang mematok harga tanah terlalu tinggi.
“Dari total kebutuhan lahan untuk proyek tol Trans Jawa seluas 4,761 hektare, hingga akhir November 2010 pembebasan lahan baru mencapai 38%. Hal ini karena sulitnya melakukan pembebasan lahan di daerah, selain tidak didukung oleh kemampuan BUJT,” katanya.
Seta menuturkan dampak dari lambatnya pembebabsan lahan tersebut, kebutuhan biaya pembebasan lahan tol trans-Jawa seluas 4.761 hektare membengkak hingga 37% menjadi Rp6.72 triliun. Padahal, estimasi awal yang tertuang dalam kontrak perjanjian peng-usahaan jalan tol yang diteken para Investor sebesar Rp4,55 triliun.
Menurut Seta, kenaikan biaya tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti perubahan nilai jual objek pajak (NJOP), mundurnya jadwal Progres pembebasan lahan selama 2-3 tahun, dan penambahan kebutuhan lahan pada beberapa ruas jalan tol akibat adanya perubahan desain konstruksi.
“Selain membengkaknya biasa pembebasan lahan, kebutuhan lahan jalan tol trans Jawa juga bertambah 491 hektar menjadi 5.252 hektar dari estimasi awal yang hanya seluas 4.761 hektar,” ujarnya.
Dia menuturkan saat ini pemerintah tengah melakukan evaluasi terhadap 24 rusa proyek jalan tol untuk mengetahui tingkat kelayakan proyek tersebut dan kemampuan financial BUJT dalam melanjutkan pembangunan proyek itu.
Selama proses evaluasi tersebut, proses pembebasan lahan harus terus berjalan agar pembangunan jalan tol tersebut bisa selesai sesuai jadwal yang ditentukan, tetapi akibat sejumlah kendala tersebut pengadaan lahan di beberapa ruas tol kini terhenti, seperti ruas Pemalang-Batang. (mfm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar