JAKARTA (SINDO) – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendukung kerja sama perdagangan bebas (free trade agreement/ FTA) dengan India. Sebelumnya negara-negara ASEAN telah menandatangani perdagangan bebas ASEAN-India (AIFTA) pada Agustus 2010.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi,dan Logistik Natsyir Mansyur mengatakan, kerja sama perdagangan dengan India akan memberikan keuntungan bagi sektor industri dan pengembangan pasar di dalam negeri. “Kadin mendorong pemerintah menjalin FTA bilateral Indonesia dengan India.FTA itu justru menguntungkan Indonesia karena neraca kita dengan India surplus.
Komoditas yang akan disepakati tidak head to head(berhadapan langsung) yakni 10 komoditas ekspor utama kita ke India. Dari India, kita bisa manfaatkan teknologinya,” kata Natsyir di Jakarta kemarin. Meski demikian, dia menuturkan, sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) akan menjadi persoalan sensitif dalam kerja sama tersebut.Kendati demikian,pihaknya tetap mendukung pemerintah untuk segera meneken dan menjalin FTA Indonesia-India.
“Ini berbeda dengan ACFTA. Dengan China, komoditas yang dipertemukan itu head to head. Produksi dan industrinya sama sehingga Indonesia kalah,”ungkap Natsyir. Dengan demikian,kata Natsyir, Kadin juga akan mengkaji kembali semua FTA yang telah diteken Indonesia. Apabilaposisinya headtohead, dia mengatakan, Kadin akan meminta pemerintah meninjau ulang FTA tersebut salah satunya ACFTA.
Natsyir menuturkan, agar bisa menembus pasar internasional, produk industri nasional harus kompetitif dan efisien. “Kita upayakan bagaimana industri bertumbuh. Bagaimana agar biaya distribusi komoditas, terutama pangan dari Aceh ke Merauke bisa efisien yakni dengan sistem logistik,” kata Natsyir.
Secara terpisah, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan mengatakan,FTA Indonesia- India akan menguntungkan sektor minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) Indonesia karena India merupakan importir terbesar CPO Indonesia. Indonesia, kata dia, akan lebih kompetitif dan diuntungkan dengan menikmati preferential tariff.
“Tapi, FTA menyangkut banyak sektor dan komoditas.Jadi,harus dilihat secara keseluruhan,”ujarnya. Dirjen Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Gusmardi Bustami menyambut baik dukungan Kadin tersebut. Menurutnya, India merupakan pasar yang sangat besar dengan pertumbuhan ekonomi 8-9%. “Volume perdagangan Indonesia- India surplus untuk Indonesia sekitar USD4-5 miliar setiap tahun.
Teknologi dan edukasi India cukup maju, India sudah selesaikan perundingan dengan Malaysia dan Singapura, dan sekarang mereka sedang dalam perundingan dengan Uni Eropa dan Jepang,” ungkap Gusmardi. India dengan jumlah penduduknya yang mencapai 1,16 miliar jiwa menjadi pasar yang cukup potensial untuk meningkatkan akses pasar produk Indonesia. Realisasi ekspor Indonesia ke India pada 2010 sejak Januari hingga Agustus 2010 mencapai USD8,2 miliar, meningkat 38,% dibanding 2009 pada periode sama yang hanya USD5,95 miliar. (sandra karina)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar