KUALALUMPUR--Potret industri dengan aset sekitar 1 triliun dolar AS-sumber lain menyebut angka 1,3 triliun dolar AS-tampaknya kian bersinar. Bahkan, kini industri itu disebut-sebut mencapai momentumnya. Hal ini ditandai dengan terbentuknya sejumlah badan internasional yang siap menjadi alat untuk mempromosikan dan mempelajari keuangan syariah.
Chief Executive Officer (CEO) Gatehouse Bank, Richard Thomas, mengakui bahwa umumnya sistem keuangan dunia lebih mengutamakan produk-produk terkait utang dari pada produk ekuitas. Kecenderungan ini tak diragukan lagi, kata Thomas, bakal mendorong ketidakstabilan keuangan.
"Model ekonomi Islam lebih memiliki keseimbangan dan juga memiliki lebih banyak produk ekuitas. Seharusnya, ini model ekonomi yang lebih aman bagi dunia," kata Thomas dalam konferensi pers pada acara World Congress Accountants 2010 di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (10/11).
Untuk itu, Thomas mendorong agar keuangan syariah pun memperoleh perhatian soal regulasi yang sepadan. Para pembuat kebijakan, katanya, seharusnya memberikan keringanan pajak pada produk-produk berbasis ekuitas, seperti halnya terhadap produk berbasis utang. Apalagi, pasar industri keuangan syariah menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih cepat dibandingkan sektor mana pun.
Padahal, sektor ini masih memiliki kelemahan di bidang instrumen dan infrastruktur. "Di tengah periode ketidakpastian dan tantangan yang luar biasa, keuangan syariah terbukti terus berekspansi dan berkembang," tambah Thomas.
Pendapat senada datang dari Paul Wouters, pengacara dari Bener Law Office Istanbul (Turki). Menurut dia, keuangan syariah dapat menjadi model ekonomi alternatif. Pasalnya, kata dia, risiko bubble dan burst pada ekonomi syariah lebih sedikit dibandingkan sistem ekonomi Barat. "Pasar konvensional berurusan dengan perdagangan utang finansial. Akibatnya, tercipta instrumen utang sekuritas keuangan. Akibat lainnya adalah terciptanya beraneka instrumen keuangan berlapis yang sesungguhnya hanyalah produk yang dikemas ulang," kata Wouters.
Keuangan syariah memang mengizinkan sekuritisasi pembiayaan dan aset. Namun, tidak mengizinkan terjadinya layering. "Itu sebabnya penggelembungan tidak akan pernah terjadi pada keuangan syariah," kata Wouters.
Namun, bukan berarti sistem keuangan syariah tanpa kritik. Etsuaki Yoshida, kepala wilayah untuk Afrika dan Timur Tengah Japan Bank for International Cooperation, mengakui bahwa keuangan syariah di pasar masih kekurangan likuiditas dan instrumen hedging. Saat ini, pertumbuhan sektor keuangan syariah mencapai 12-15 persen per tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar