DI TENGAH janji untuk memperjuangkan dan menjaga pasar terbuka, negara-negara besar ekonomi dunia yang tergabung di G20 malah cenderung berbalik ke arah proteksionisme. Langkah yang kontradiktif ini secara kasat mata menimbulkan korban, yakni negara berkembang dan miskin. Demikian laporan Global Trade Alert (GTA) kemarin (8/11).
Laporan GTA menemukan negara G20 telah menerapkan 111 langkah yang merugikan kepentingan komersial asing sejak pertemuan terakhir Juni lalu. GTA membuat laporan menyusul peringatan World Trade Organization (WTO) yang menyatakan ekonomi global terancam kebijakan proteksionisme yang disebabkan ketegangan atas nilai tukar yang cenderung memanas. Pertarungannya terutama antara dolar Amerika Serikat yang bersekutu dengan Euro versus Yuan China.
Menanggapi laporan WTO tersebut, GTA malah lebih pesimistis tentang kebijakan proteksionisme. Menurut GTA, ketegangan nilai tukar mata uang tidak menyebabkan proteksionisme di seluruh tingkatan, tetapi menuduh pemerintah G-20 terus menutup pasar mereka untuk kompetisi asing.
GTA juga mengkritik pembuat kebijakan di negara kaya dan berkembang yang umumnya berbicara tentang perlunya membantu negara-negara berkembang. "Nyatanya di seluruh dunia sejak krisis global 2008, pemerintah G20 telah melukai para pengusaha dan pekerja migran dari 50 negara termiskin, " kata salah satu pendiri GTA Simon Evenett, yang juga profesor ekonomi di St Gallen University Swiss dikutip Reuters.
Standar Emas untuk Alat Tukar
Presiden Bank Dunia Robert Zoellick menyampaikan usulan mengejutkan jelang pertemuan G20 di Seoul, Korea Selatan. Dia menyatakan negara maju pemimpin ekonomi dunia seharusnya memakai emas yang berstandar global sebagai alat tukar.
Menulis di Financial Times, Zoellick menyerukan sistem "Bretton Woods II." Yakni satu sistem nilai tukar pengganti regim Bretton Woods yang sudah mengambang bebas sejak awal dekade 1970-an.
Menurut Zoellick langkah ini melibatkan dolar AS, euro, yen, poundsterling, dan (yuan) yang melangkah ke internasionalisasi lalu membuka neraca. "Sistem ini juga mempertimbangkan emas sebagai acuan internasional terhadap ekspektasi pasar tentang inflasi, deflasi dan nilai tukar masa depan," lanjutnya.
Analis masih hati-hati. "Ke depan mungkin saja ini bisa jadi alternatif. Tapi ini tak bisa terjadi dalam waktu dekat," kata analis Phillip Futures di Singapura Ong Yi Ling.
Emas mencetak rekor harga tertinggi US$1.398,35 per ons di awal perdagangan Senin (8/11) menyusul kekhawatiran atas tren nilai dolar AS setelah Federal Reserve beraksi membeli US Treasury.
Indonesia Dorong Isu Pembangunan dan Antikorupsi
PADA Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Seoul yang berlangsung 11-12 November besok, Indonesia mendorong isu-isu pembangunan dan antikorupsi. Kedua isu ini belum pernah dibahas dalam pertemuan G20 sebelumnya.
''Masuknya isu pembangunan menjadikan G20 cukup berbeda dibandingkan G7
atau yang sebelumnya. Fokusnya esensi pembangunan sebagai bagian penting pertumbuhan ekonomi global yang tinggi dan berkelanjutan,'' kata Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar kemarin (8/11).
Tentang agenda antikorupsi, Indonesia bertindak sebagai waki ketua sedangkan Prancis sebagai ketua dalam kelompok kerja antikorupsi. Agenda ini penting karena seluruh anggota G20 sadar persoalan krisis global yang muncul merupakan peringatan terhadap
akuntabilitas dan kredibilitas. ''Persoalan yang berkaitan dengan akuntabilitas dan kredibilitas perlu terus diperbaiki,'' katanya.
Bagi Indonesia, agenda antikorupsi terus-menerus menjadi prioritas nasional. Tetapi disadari, agenda antikorupsi tidak mungkin terlaksana sepenuhnya apabila tidak ada kerja sama internasional. Oleh karena itu, Indonesia bukan hanya mendukung tapi juga berperan aktif. Yanuar/Ayu Lazuardi/Suhartono
Tidak ada komentar:
Posting Komentar