Selasa, 09 November 2010

Emas Bisa Dipakai Acuan Kurs

Nilai Tukar , Presiden Obama Bela Kebijakan The Fed
SINGAPURA – Bank Dunia mendesak anggota G20 memelopori pengunaan emas sebagai standar bagi penentuan nilai tukar mata uang masingmasing negara. Ini dianggap sebagai salah satu upaya efektif untuk meredam kekhawatiran ancaman perang kurs global. Desakan tersebut disampaikan Presiden Bank Dunia Robert Zoellick melaui tulisannya yang dipublikasikan media Financial Times, Senin (8/11).

Menurut Zoellick, sistem baru yang mengadopsi cara-cara tradisional itu mungkin dapat diterapkan terhadap mata uang di pasar valuta asing internasional, seperti dollar AS, euro, yen, poundsterling, dan renmimbi (yuan). “Sistem baru juga sebaiknya mempertimbangkan emas sebagai titik referensi internasional dari ekspektasi pasar terkait dengan infl asi, defl asi, dan kurs mata uang di masa depan,” ujar Zoellick.

“Meskipun emas dianggap sebagai mata uang kuno, sejumlah negara masih menggunakannya sebagai aset moneter alternatif saat ini.” Penggunaan emas sebagai standar dalam sistem moneter global pernah diterapkan pascaresesi hebat, Great Depression, pada era 1930-an, yang terkenal dengan kesepakatan Bretton Woods.

Dalam kesepakatan itu, nilai tukar dollar AS didasarkan pada harga emas dunia, dan beberapa negara sepakat membatasi aliran arus modalnya. Namun pada 1971, Presiden AS saat itu, Richard Nixon, meninggalkan sistem tersebut menyusul jatuhnya nilai tukar dollar AS terhadap emas dunia. Mark Pervan, analis komoditas senior di ANZ, mendukung wacana kembali ke emas sebagai standar pergerakan valas internasional.

“Dollar AS tengah kehilangan relevansinya, khususnya dengan negara-negara ekonomi baru di Asia. Karenanya, tolok ukur yang netral mungkin dibutuhkan. Emas, di tengah kondisi tak menentu saat ini, mungkin cukup sesuai,” paparnya. Di pihak lain, beberapa analis meragukan dengan sistem baru yang didasarkan pada nilai emas.

Ini karena harga emas saat ini kian menunjukkan tren naik sehingga menguntungkan para spekulan. Dalam perdagangan sesi pertama kemarin, harga emas mencapai rekor tertinggi 1.398,35 dollar AS per ons menyusul kekhawatiran pelemahan dollar AS setelah bank sentral AS, The Fed, pekan lalu mengumumkan kebijakan stimulus baru (quantitative easing) sebesar 600 miliar dollar AS. “Ke depan, sistem tersebut mungkin akan diterapkan.

Tapi, ini (penerapan sistem baru) tidak akan terjadi dalam waktu singkat,” tegas Ong Yi Ling, analis dari Phillip Futures di Singapura. Selain mendesak penggunaan emas pada sistem moneter global, Zoellick mendesak negara- negara G20 mengusung reformasi struktural, termasuk peningkatan permintaan domestik di China dan pemangkasan utang di AS dalam konferensi G20 di Seoul, Korsel, pada 11-12 November mendatang.

Dia juga mendesak G20 bekerja sama untuk mengatasi kenaikan arus modal ke emerging country yang dikhawatirkan menciptakan bubble asset.

Pembelaan Obama

Di New Delhi, India, Presiden AS Barack Obama mengeluarkan pembelaan terhadap langkah The Fed yang menyuntikkan dana stimulus baru ke sistem perbankan di negara itu. Menurut Obama, kebijakan tersebut dinilai tepat untuk membantu percepatan pemulihan ekonomi AS maupun dunia yang saat ini masih rapuh. “Mandat The Fed dan mandat kami adalah untuk menaikkan pertumbuhan perekonomian kami.

Dampak ini bukan hanya bagi Amerika Serikat semata, tetapi akan meluas ke seluruh dunia. Bila kami mendapati tak adanya pertumbuhan ataupun tingkat pertumbuhan yang sangat terbatas, hal terburuk juga akan menimpa perekono mian dunia,” papar Obama saat berkunjung ke India, Senin (8/11).

Pembelaan tersebut disampaikan setelah raksasa ekonomi dunia, China, Brasil, dan Jerman, menentang tegas kebijakan The Fed. Kebijakan itu dinilai tak memberi perubahan yang berarti terhadap kondisi perekonomian dunia saat ini. Apalagi, likuiditas di AS masih baik sehingga tidak dibutuhkan stimulus baru.
mad/AFP/Rtr/E-3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar