Indikator Pertumbuhan , Keidanren Dorong Pengusaha Investasi di Indonesia
TOKYO – Dua raksasa ekonomi di Asia, Jepang dan India, mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif. Perekonomian di Jepang tumbuh 3,9 persen pada kuartal III, sementara India bertekad merevisi pertumbuhan ekonominya menjadi dua digit pada tahun ini. Sepanjang periode Juli-September lalu, perekonomian Jepang tumbuh 3,9 persen, naik dibandingkan hasil pada kuartal III-2009 sebesar 1,8 persen.
Angka ini melampaui ekspektasi pasar sebesar 2,5 persen. Berdasarkan basis kuartalan, perekonomian Jepang tumbuh 0,9 persen. Kenaikan pertumbuhan ekonomi di Jepang digerakkan sentimen di sektor konsumsi. Konsumen otomotif bergegas membeli mobil sebelum program subsidi berakhir pada September lalu. Sedangkan para perokok berlomba-lomba menyetok barang sebelum pajak tembakau naik.
Pengeluaran konsumsi swasta juga naik 1,1 persen pada kuartal III. Sebagai perbandingan, pengeluaran konsumsi swasta pada kuartal sebelumnya hanya tumbuh 0,1 persen. “Catatan positif dipengaruhi pertumbuhan konsumsi di sektor swasta. Berakhirnya program subsidi pemerintah untuk pembelian mobil ramah lingkungan dan kenaikan pajak rokok mendorong kenaikan konsumsi individu,” papar Taro Saito, ekonom senior di NLI Research Institute, di Tokyo, Senin (15/11).
Dalam beberapa bulan terakhir, prose pemulihan Jepang terus kehilangan akselerasinya. Produksi industri di negara yang ekonominya bertumpu pada ekspor itu kembali turun pada September lalu. Tak hanya itu, aktivitas ekspor di negara itu tumbuh melambat. Harga konsumsi terus menurun menyusul defl asi di negara itu akibat penguatan kurs yen terhadap dollar AS.
“Kami terus memperkirakan perekonomian berkontraksi kembali pada kuartal keempat ketika pengeluaran konsumsi turun, ekspor lambat, dan pemulihan sektor investasi tetap tersendat-sendat,” tulis perusahaan konsultan Capital Economics dalam pernyataannya. Kondisi perekonomian Jepang saat ini berada dalam kondisi sulit dengan menanggung beban utang 200 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Selain itu, sektor ekspor yang diandalkan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi terganggu menyusul kenaikan nilai tukar yen. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, Keidanren atau kamar dagang Jepang ter tarik untuk mendorong pengusaha Jepang masuk dan berinventasi di dua koridor pertumbuhan ekonomi dan perdagangan Indonesia, yakni Koridor Jawa dan Sumatra.
Juru Bicara Wakil Presiden Yopie Hidayat, kepada pers di Tokyo, Senin, mengatakan hal tersebut disampaikan Ketua Keidanren Hiromasa Yonekura saat bertemu dengan Wakil Presiden Boediono. Pemerintah Indonesia, kata Yopie, mengimbau pengusaha Jepang untuk merelokasi industri ke Indonesia. Wapres menyampaikan bahwa selama ini Indonesia nyaman untuk berbisnis, dan teknologi Jepang merupakan salah satu teknologi terbaik.
Optimisme India
India mengindikasikan perubahan terhadap target pertumbuhan pada tahun ini menjadi dua digit. Namun, pemerintah menyatakan India memerlukan invetasi asing lebih banyak untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nya. Pada Minggu (14/11) lalu, Menteri Keuangan India, Pranab Mukherjee, menyatakan perekonomian India berada pada fase pertumbuhan cepat.
Berdasarkan data terakhir, lanjutnya, pertumbuhan ekonomi pada periode Juli- September naik 8,8 persen. “Tantangan saat ini adalah untuk mengembalikan pertumbuhan PDB tinggi sebesar 9 persen plus dan melampaui batasan pertumbuhan dua digit pada tahun berikutnya atau dua tahun mendatang,” papar Pranab.
Pranab menambahkan, negaranya membutuhkan peningkatan investasi asing untuk mendorong pertumbuhan ekonomi India ke depan. Investasi tersebut akan digunakan untuk membangun sejumlah sarana penunjang, termasuk pelabuhan, jalan, dan infrastruktur lainnya. India bertekad meningkatkan investasi di sektor infrastruktur sebesar dua kali lipat menjadi satu triliun dollar AS dalam kurun waktu lima tahun hingga 2017.
Pemerintah juga berjanji akan mencabut aturan yang menghalangi investasi asing masuk. Saat ini, India menginvestasikan sekitar enam persen dari PDB di sektor infrastrukturnya, separo dari pengeluaran China di sektor sama sebesar 11 persen.
mad/Rtr/AFP/Ant/E-3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar