Proyeksi OECD
PARIS – Organisasi bagi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menyatakan China, India, Inggris, Prancis, dan Italia akan mengalami pelambatan ekonomi. Sementara ekspansi akan terus berlanjut di Amerika Serikat (AS), Jerman, Jepang, dan Rusia. Peringatan OECD yang disampaikan di Paris, Senin (8/11), didasarkan pada indeks composite leading indicators (CLI).
“Indikasi bagi China dan Brasil terus menurun, di bawah tren jangka panjang,” kata laporan itu. Di Beijing, Fan Jianping, ekonom Pusat Informasi Negara mengungkapkan tingkat inflasi China hingga kuartal terakhir bisa di atas 3 persen, didorong ekses likuiditas global dan kenaikan harga produk pertanian. Ia juga menambahkan bahwa kenaikan suku bunga acuan tidak akan mampu menekan angka inflasi, meskipun kebijakan tersebut dapat menolong untuk mengantisipasi adanya gelembung aset (asset bubbles).
“Harga produk pertanian global sementara akan terus naik menyusul adanya quantitative easing policy yang diterapkan bank sentral AS. Harga produk pertanian dapat kembali stabil ketika global money supply kembali netral,” kata Fan. Sementara itu, Pemerintah Jepang mengakhiri spekulasi soal intervensi sektor finansial untuk meredam penguatan yen.
Data Kementerian Keuangan Jepang yang dirilis Senin (8/11) menunjukkan pemerintah meluncurkan intervensi pertama kalinya sebanyak 2,125 triliun yen atau sekitar 26 miliar dollar AS pada 15 September lalu. Angka tersebut dianggap rekor terbesar untuk operasi yang dilakukan dalam sehari.
Menuai Kritik
Pasca-intervensi tersebut, nilai tukar yen melemah terhadap dollar AS sebesar nyaris tiga yen dalam waktu begitu singkat. Hal inilah yang kemudian memicu spekulasi dari beberapa pihak bahwa pemerintah mungkin kembali melakukan intervensi ke pasar valas untuk kali kedua pada 24 September. Namun, pemerintah langsung menolak spekulasi itu.
Menteri Keuangan Jepang Yoshihiko Noda, kemarin, di depan parlemen, menyatakan penguatan nilai tak selamanya mendatangkan dampak buruk bagi Jepang. Pasalnya, dengan penguatan itu, perusahaan Jepang dapat membeli aset-aset di luar negeri dengan harga lebih murah. Langkah sepihak yang dilakukan Jepang di pasar valas ternyata menuai kritik dari Eropa dan AS.
Pasalnya, beberapa bank sentral dikhawatirkan akan menggunakan alasan penguatan kursnya untuk mendorong daya saing di sektor ekspor, seperti upaya yang dilakukan China.
Jean-Claude Juncker, yang memimpin kelompok 16 menteri perekonomian di zona euro menilai langkah Jepang itu sebagai strategi yang kurang tepat. Sementara sejumlah anggota legislatif AS menyebut intervensi Jepang “sangat mengganggu” proses pemulihan ekonomi global.
mad/AFP/Rtr/E-3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar