Sabtu, 27 November 2010

Dihantui Kenaikan Suku Bunga

“Outlook” Perbankan , Lembaga Keuangan Harus Mendukung Sektor Riil
Seiring dengan pemulihan ekonomi global dan peningkatan ekspektasi inflasi, Bank Indonesia (BI) akan mulai merevisi suku bunga acuan, atau yang dikenal sebagai BI Rate. Bila naik, suku bunga perbankan pun segera mengikuti kebijakan baru itu. Bagi Indonesia, kenaikan suku bunga kredit kurang kondusif karena pemerintah dan pengusaha masih membutuhkan dukungan suku bunga rendah untuk menggerakkan sektor riil.

Kekhawatiran akan adanya kenaikan suku bunga makin bertambah setelah Organisasi bagi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (Organization for Economic Cooperation and Development /OECD) menyatakan bahwa Indonesia perlu memertimbangkan kenaikan suku bunga acuan. Menurut OECD, kenaikan tersebut sebaiknya dilakukan sebelum akhir tahun ini untuk mengamankan target infl asi 2011 yang 5,3 persen.

Ekonom Bank Danamon, Anton Hendranata, mengatakan kebijakan suku bunga acuan sangat ditentukan oleh laju inflasi. Melihat perkembangan inflasi sampai saat ini, Anton memperkirakan inflasi 2010 akan mendekati 6,1 persen. “Dengan melihat perkembangan inflasi inti yang relatif aman, sepertinya suku bunga acuan 6,5 persen masih dipertahankan sampai akhir 2010,” katanya, di Jakarta, Kamis (25/11).

Pada 2011, lanjut Anton, BI diperkirakan mulai menaikkan suku bunga acuan. “Menurut perkiraan kami, kenaikan suku bunga acuan akan mulai terjadi pada triwulan II- 2011. Saat itu, inflasi inti bisa mencapai 5,5 persen atau bahkan enam persen,” katanya. Pengamat ekonomi, Mirza Adityaswara, menambahkan kenaikan suku bunga acuan juga dipengaruhi sentimen global.

“BI akan menunggu untuk menaikkan suku bunga acuan setelah melihat kondisi perekonomian global,” ujarnya. Saat suku bunga global meningkat, lanjut Mirza, dana-dana asing yang saat ini tengah menyerbu Indonesia bisa tertarik keluar. Oleh karena itu, suku bunga acuan akan dinaikkan untuk mempertahankan danadana tersebut agar tidak terjadi guncangan terhadap system keuangan dan perekonomian secara keseluruhan.

“Capital infl ow memang menjadi faktor yang membuat perekonomian Indonesia tidak mengalami keketatan likuiditas,” katanya. Perubahan suku bunga acuan, tambah Mirza, tentu akan memengaruhi suku bunga di perbankan. “Suku bunga DPK (Dana Pihak Ketiga) akan naik meskipun sudah dilaranglarang,” tegasnya. Pendapat hampir senada dituturkan ekonom Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa.

Menurutnya, suku bunga perbankan memang ditentukan melalui mekanisme pasar. Namun, kebijakan bank sentral diharapkan mampu meredam potensi kenaikan suku bunga pada 2011. “Kalau kekuatan pasar berada di perbankan, “dengan semangat 1945’ bank akan menaikkan suku bunga. Oleh karena itu, ini tergantung betul pada kejelian bank sentral untuk menentukan dan mengatur kebijakan moneter supaya bunga di pasar bisa turun,” tegas Yudhi.

Kebijakan seperti menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM), lanjut Yudhi, justru menghambat proses penurunan suku bunga perbankan. “Tujuan dari menaikkan GWM adalah sinyal bahwa bank sentral concern terhadap infl asi. Namun, sinyal itu agak mixed, menarik dana dari sistem bisa direspons dengan keengganan perbankan menurunkan suku bunga pinjaman,” katanya.

Kondisi Domestik

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan perlu melihat kondisi perekonomian dalam negeri sebelum memutuskan kenaikan suku bunga. “Hasil survei OECD tidak mengiat, itu berdasarkan hasil survei. Beberapa masukannya bagus, tetapi bukan semuanya harus kita ikuti,” tegasnya. Perbankan, lanjut Hatta, harus bisa berfungsi sebagai pendukung sektor riil. Oleh karena itu, keputusan untuk menaikkan suku bunga harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

“Menaikkan suku bunga itu kan harus melihat kondisi-kondisi di dalam negeri kita. Harus diperhatikan bagaimana sektor riil bisa tetap bergerak, bagaimana invstasi tetap bergerak, bagaimana pengusaha- pengusaha kita tetap bisa bergerak, dan bagaimana daya saing kita,” papar Hatta. Indonesia, tambah Hatta, masih membutuhkan suku bunga yang rendah agar bisa meningkatkan daya saing.

“Apalagi di negara- negara lain suku bunga hanya sekitar 2-3 persen,” ujarnya. Pengamat ekonomi dari UGM, A Tony Prasetiantono, mengatakan suku bunga global pada 2011 belum tentu mengalami kenaikan. “Justru bisa sebaliknya,” ujarnya.

Negara-negara besar seperti AS dan zona euro, lanjut Tony, ingin agar mata uang mereka terdepresiasi agar mendorong daya saing ekspor, terutama saat berhadap dengan China. “Oleh karena itu, kemungkinan mereka masih mempertahankan suku bunga rendah,” katanya.
aji/E-3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar