JAKARTA: Arus dana asing yang masuk ke Indonesia (capital inflow) yang terjadi saat ini dinilai masih tahap awal sehingga capital inflow kedepannya masih akan sangat besar lagi.
Pengamat ekonomi dari UI Chatib Basri mencontohkan kapitalisasi pasar Google yang besarnya sama dengan Republik Indonesia akan membuat negara-negara emerging market terutama Indonesia kebanjiran capital inflow bila Google memindahkan sebagian modalnya ke negara emerging market.
"Jadi kalau dipindahkan 1% saja dari Eropa ke emerging countries termasuk Indonesia maka tekanan kepada money supply dan exchange rate akan semakin kuat," katanya dalam acara Seminar Bisnis Indonesia-BNI Outlook 2011 hari ini.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, lanjutnya, Bank Indonesia harus mencari titik tengah antara kebijakan intervensi di satu sisi dan membiarkan rupiah mengalami apresiasi. "[Apresiasi rupiah] tentunya akan mengakibatkan memukul labour intensive. Itu yang menjadi persoalan kita karena return-nya 0 dan SBI-nya 6,5%," jelasnya.
Dalam situasi global yang sangat bergejolak, jelas Chatib, persoalan mengelola capital inflow akan menjadi isu penting karena bila tidak dikelola secara hati-hati akan berpotensi menimbulkan bubble. "Makanya saya nggak berani memprediksi exchange rate dalam jangka pendek karena saya mengantisipasi kalau proyek infrastruktur lambat," ujarnya.
Menurutnya, bila proyek infrastruktur masih saja lamban penyerapannya maka hal itu akan membuat dana menumpuk di financial sector sehingga stock prices akan menjadi mahal. "Ketika stock prices mahal yang dilakukan adalah product saving, dia keluar," tambahnya. (faa)
Pengamat ekonomi dari UI Chatib Basri mencontohkan kapitalisasi pasar Google yang besarnya sama dengan Republik Indonesia akan membuat negara-negara emerging market terutama Indonesia kebanjiran capital inflow bila Google memindahkan sebagian modalnya ke negara emerging market.
"Jadi kalau dipindahkan 1% saja dari Eropa ke emerging countries termasuk Indonesia maka tekanan kepada money supply dan exchange rate akan semakin kuat," katanya dalam acara Seminar Bisnis Indonesia-BNI Outlook 2011 hari ini.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, lanjutnya, Bank Indonesia harus mencari titik tengah antara kebijakan intervensi di satu sisi dan membiarkan rupiah mengalami apresiasi. "[Apresiasi rupiah] tentunya akan mengakibatkan memukul labour intensive. Itu yang menjadi persoalan kita karena return-nya 0 dan SBI-nya 6,5%," jelasnya.
Dalam situasi global yang sangat bergejolak, jelas Chatib, persoalan mengelola capital inflow akan menjadi isu penting karena bila tidak dikelola secara hati-hati akan berpotensi menimbulkan bubble. "Makanya saya nggak berani memprediksi exchange rate dalam jangka pendek karena saya mengantisipasi kalau proyek infrastruktur lambat," ujarnya.
Menurutnya, bila proyek infrastruktur masih saja lamban penyerapannya maka hal itu akan membuat dana menumpuk di financial sector sehingga stock prices akan menjadi mahal. "Ketika stock prices mahal yang dilakukan adalah product saving, dia keluar," tambahnya. (faa)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar