Jumat, 26 November 2010

Capital Inflow Berlangsung Hingga Semester II 2010

Jakarta - Derasnya arus modal masuk (capital inflow) diperkirakan akan terus berlangusng hingga hingga pertengahan tahun 2011. Kendati demikain derasnya arus modal tersebut harus menjadi catatan khusus otoritas dan semua pelaku pasar di tanah, mengingat tidak menutup kemungkinan bakal terjadi bubble (gelembung) likuiditas secara tidak terduga.

Demikian dikatakan Menteri Keuangan Agus Martowardojo ketika berbicara dalam seminar nasional Ikatan Bankir Indonesia (IBI) di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu (24/11). “Keaadaan seperti ini, masih akan berlangsung sampai pertengahan tahun 2011 dimana dana yang likuid masih mengalir ke negara berkembang terutama Indonesia,”ujar Agus.
Kendati demikian, Agus mengungkapkan, masih terus berlangsungnya capital inflow menunjukkan tingginya kepercayaan asing terhadap Indonesia. Sehingga, jika tidak direspon dengan berbagai kebijakan maka akan terjadi bubble. “Perlu diperhatikan pengendalian capital inflow di sisi yang tepat,” tuturnya.
Sebagai otoritas, lanjut Agus, pemerintah telah berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga arus modal masuk tersebut serta mengelolanya dengan berbagai kebijakan. “Crisis Management Protocol selalu dilakukan oleh pemerintah dan BI untuk mencegah bubble tersebut,” jelasnya.
Bagi para bankir, Agus meminta untuk ikut memanfaatkan inflow yang masih akan deras mengalir. Antara lain, Agus mengatakan perbankan harus bisa mendorong nasabahnya untuk aktif menempatkan dananya untuk investasi. “Selain itu memanfaatkan inflow dengan melakukan right issue dan penerbitan subdebt serta obligasi,” ungkapnya.
Selain itu, Agus juga mengatakan bahwa pemerintah akan mendorong pergerakan modal masuk ke sektor properti. Hal ini, lanjut Agus dikarenakan sektor properti merupakan investasi jangka panjang. “Kami juga arahkan untuk BUMN melakukan IPO serta melakukan penerbitan surat berharga,” katanya.
Sejalan dengan itu, Agus tak lupa meminta kepada seluruh pihak agar menjaga iklim investasi dan sistem keuangan dijauhkan dari moral hazard. “Jangan sampai ada moral hazard dan adanya missmacht penempatan di instrumen invstasi. Jangan sampai investasi yang jangka pendek di tempatkan di underlying yang jangka panjang,” kata Agus.
Masuk SUN
Di tempat yang sama, Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya mengatkaan pihaknya akan mendorong perbankan untuk menempatkan dananya di instrument Surat Utang Negara (SUN) ketimbang di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) tetapi. Tujuannya untuk mendorong penguatan manajemen likuiditas perbankan.
Dari sisi otoritas, lanjut Budi, BI melalui pelaksanaan Operasi Pasar Terbuka (OPT) juga diupayakan untuk mengurangi penyerapan ekses likuditas perbankan dalam SBI. Hal itu sekaligus memperpanjang tenor di SBI dan memperkenalkan term-deposit sebagai komplemen SBI. “Ini dilakukan untuk mendorong penguatan manajemen likuiditas perbankan,” ujar Budi.
Selain itu, Budi juga meminta perbankan agar terdorong untuk mengoptimalkan aset likuidnya. Terutama ke SUN sebagai bagian utama pengelolaan likuditas harian perbankan. Adapun perbankan untuk meningkatkan likuiditas pasar SUN bisa dilakukan melalui transaksi repo. “Baik repo antar bank maupun repo dengan Bank Indonesia. Dengan demikian perbankan secara bertahap akan mengurangi porsi cash sebagai buffer (bantalan) pemenuhan likuiditas jangka pendeknya,” ujar Budi.
Perlu Diawasi
Pengamat Ekonomi dari Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Dr. Syafrizal Chan menilai investasi asing yang dominan masuk ke instrumen keuangan hanya jangka pendek sehingga perlu diawasi pemerintah. “Karena sewaktu-waktu bisa menggoyang ekonomi Indonesia,”ujarnya, Rabu (24/11).
Menurutnya arah investasi asing beberapa waktu terakhir cenderung ke instrumen moneter, karena ingin mengambil untung dalam jangka pendek. “Kondisi itu katanya, harus diawasi karena berbahaya terhadap ekonomi dalam negeri,” kata Direktur Pasca Sarjana UBH Padang itu.
Menurut Syafrizal, patut dicemaskan tingginya uang asing masuk instrumen moneter, karena investor bisa saja lari sewaktu-waktu kalau menurut mereka adanya situasi yang tak menguntungkan atau kurang stabil. Kendati saat ini, situasi dalam negeri baik politik dan keamanan masih relatif terjaga, sehingga masih membuat penanam modal asing tetap bertahan dan mengarah instrumen keuangan tersebut.
Menurut dia lagi, tingginya investasi ke instrumen keuangan karena pengusaha asing, lebih memilih obligasi karena dalam jangka waktu yang pendek dan bunganya pun berkisar 11-12 %. Selain itu, investor asing masuk dengan membeli saham di pasar modal dengan waktu yang pendek juga, tapi dengan harapan mereka bisa lebih cepat dapat untung.
Sementara itu, jika investasi masuk ke sektor riil, tentu butuh waktu, prosedur perizinan sehingga banyak problem yang harus dihadapi. Oleh karenanya banyak yang mengarahkan masuk ke instrumen moneter itu. Oleh karena itu, menurut Syafrizal, pemerintah jangan lengah dan terus diupayakan mengarahkan ke sektor ril dengan melakukan berbagai terobosan-terobosan.
Sementara Ekonom dari Universitas Andalas, Prof Elfindri, mengatakan pemerintah seharusnya mengarahkan penanaman modal asing membiayai pembangunan di daerah dengan kurun waktu yang lebih cepat pengembaliannya. “Sehingga ancaman potensi pelarian modal asing bisa dihindari bahkan ancaman potensi pelarian modal asing itu makin bisa dihindari jika sistem keuangan di Indonesia diperkuat,” kata Elfindri.
Elfindri menilai memang sistem keuangan Indonesia masih lemah sehingga akan dapat mempengaruhi capital outfligh itu atau modal asing tersebut bisa hengkang dari tanah air, namun pengaruhnya tidak akan terlalu signifikan terjadi . Sebab, katanya, kalau modal itu bisa bergerak ke sektor usaha dan pembangunan yang ditanam di suatu daerah dan bisa lebih cepat pengembaliannya.
Sementara itu Indonesia sangat memungkinkan terjadinya pengembalian modal yang lebih cepat, karena Indonesia sebagai salah satu raising stars (negara yang berkembang) di bidang ekonomi. “Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara Asia yang tengah berkembang pembangunanya di bidang ekonomi dan justru rugi jika pemodal asing melarikan modalnya dari Indonesia,” katanya.
Ia menguatkan keyakinannya terhadap hal itu, terkait pada 2014 perkembangan kegiatan ekspor Indonesia justru akan sama dengan RRC. Hal itu ditandai dengan, permintaan akan produksi Indonesia yang luar biasa, apalagi didukung oleh kondisi politik di tanah air juga sudah mulai bagus dan begitupula terhadap sistem keuangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar